Tuesday, September 16, 2014

Sedekah Terbaik, Memberikan yang Paling Dicintai

Sedekah Terbaik, Memberikan yang Paling Dicintai

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnyaAllah mengetahuinya” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Menafsirkan ayat di atas, berkata Hasan Basri: “Sesungguhnya kalian tidak akan bisa meraih apa yang kalian inginkan kecuali kalau kalian mampu meninggalkan sesuatu yang menyenangkan, dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cita-citakan kecuali dengan bersabar dengan sesuatu yang kalian tidak senangi” (Al Qurtubi,Al Jami’li Ahkam Al Qur’an, Beirut, Dar Al Kutub Ilmiyah, 1417H-1996M cet.V4/86

menurut Anas bin Malik radhiallahu anhum, Abu Tolhah radhiallahu anhum adalah orang Anshor yang paling banyak memiliki pohon kurma di Madinah. Harta yang paling ia sukai adalah perkebunan Bairuha yang terletak di depan Masjid Nabawi (Al Jashos, Ahkam AlQur’an: 2/301). Nabi Muhammad SAW sering masuk ke dalamnya untuk meminum air segar di dalamnya.

Ketika ayat Ali ‘Imran [3]: 92 turun,Abu Tolhah segera datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam seraya berkata: “Sungguh harta yang paling aku cintai adalah perkebunan Bairuha’ ini, dan saya sedekahkan untuk Allah. Saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah, maka silahkan wahai Rasulullah engkau letakkan pada tempat yang engkau pandang sesuai.”

Jawab Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam: “Bakhin-bakhin (bagus-bagus)…inilah harta yang membawa keuntungan, inilah harta yang membawa keuntungan, dan saya telah mendengarnya, sebaiknya engkau berikan kepada saudara-saudara kamu”.

kata “bakhin-bakhin” atau bakhi-bakhi atau bakh-bakh, biasanya diucapkan orang-orang Arab ketika kagum dan memuji suatu perbuatan (lihat An Nawai, Syarah Shohih Muslim: 4/95).

Maka berkata Abu Tolhah: “Akan saya laksanakan hal itu wahai Rasulullah.” Kemudian Abu Tolhah membagikan taman tersebut kepada sanak saudaranya (HR Bukahri, Bab Zakat Terhadap Sanak Saudara, No;1461; HR Muslim, Bab Zakat, No:42).

Tsabit bin Dahdah juga memiliki kebun yang bagus, berisi 600 batang kurma kualitas terbaik, Begitu turun firman Allah: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang terbaik, maka Allah akan melipatgandakan pahala yang banyak” (Qs. Al-Hadid:11), dia bergegas mendatangi Rasulullah untuk bertanya: “Ya Rasululah, apakah Allah ingin meminjam dari hambanya?” “Benar” jawab Rasul. Spontan Tsabit bin Dahdah mengacungkan tangannya seraya berkata “Ulurkan tangan anda, wahai Rasulullah”.

Rasulullah mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Tsabit bin Dahdah sambil berkata “Aku menjadikan anda sebagai saksi bahwa kupinjamkan kebunku kepada Allah“.Tsabit sangat gembira dengan keputusannya itu. dalam perjalanan pulang, dia mampir ke kebunnya. Dilihatnya istri dan anak-anaknya tengah bercengkrama dibawah pepohonan yang sarat dengan buah kurma.

Dari pintu kebun, Tsabit memanggil istrinya, “Hai Ummu Dahdah! cepat keluar dari kebun ini, Akusudah meminjamkan kebun ini kepada Allah SWT” Istrinya menyambut dengan suka cita. “Engkau tidak rugi, suamiku, engkau beruntung, engkau sungguh beruntung,” katanya seraya mengeluarkan kurma yang sudah berada dalam mulut anak-anaknya. “Nak, ayo keluarkan, ayahmu sudah meminjamkan kebunini kepada Allah Ta’ala.”

Atas peristiwa tersebut Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah mengabarkan “Berapa banyak pohon sarat buah yang kulihat di surga atas nama Abu Dahdah“.

Kisah lain menceritakan kedermawanan Zaid bin Haritsah. Suatu hari Zaid menemui Rasulullah dengan mengendarai kuda perangnya yang bernama “Sabal”. Semua orang tahu,kuda ini adalah harta yang paling dicintai Zaid. Kepada Nabi Muhammad SAW, Zaid berkata: “Wahai Rasulullah, sedekahkanlah kuda ini.” Tapi secara tidak disangka, Rasulullah SAW memberikan kuda sedekah tersebut kepada putera Zaid sendiri yaitu Usmah bin Zaid. Melihat hal tersebut, Zaid menegaskan: “Wahai Rasulullah, maksud saya, agar kuda tersebut disedekahkan.” “Ya,”jawab Nabi. “Sedekahmu telah diterima Allah SWT.” (Ibnu Arabi: AhkamAl Qur’an:1/368)

Contoh lain Abdullah bin Umar sangat tertarik pada hamba sahaya asal Romawi bernama Marjanah. Tapi setelah memerdekakannya ia mempersilahkan wanita cantik itu menikah dengan pria lain pilihannya.

Berkata Abdullah bin Umar:”Ketika saya teringat ayat ini (QS. Ali ‘Imran [3]: 92), saya berpikir tentang harta yang paling saya cintai dan ternyata saya dapatkan bahwa tidak ada yang paling saya cintai dari seorang budak wanita Romawai. Maka, kemudian segera saya bebaskan dia demi mencari ridha Allah. Sungguh, seandainya aku menjilat ludah sendiri, tentu budak tersebut akan aku nikahi”. (Ibnu Katsir: TafsirAl Qur’an Al Adhim: 1/506).

Jadi sedekah yang paling utama adalah menginfaqkan harta yang paling dicintainya di jalan Allah, sebagaimana diteladankan oleh para sahabat.

Berkata seorang ulama tabi’in bernama Atho: “Kalian tidak akan mendapatkan kemulian Islam dan taqwa sehingga kalian bersedekah dalam keadaan sehat, ingin hidup secara baik, dan takut miskin” (Qurtubi: Al Jami’li Akam Al Qur’an: 4/133)

Sumber : Buku “DahsyatnyaSedekah 2″ (kumpulan testimoni)

Pemkab Banyuwangi Gencarkan Sedekah Oksigen

Pemkab Banyuwangi Gencarkan Sedekah Oksigen

Pengertian Sedekah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infaq berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, yaitu hingga menyangkut hal yang bersifat non materiil, seperti tersenyum, menasehati mengucapkan dan membalas salam, menolong orang dan lain sebagainya.

HR Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-isteri, dan melakukan  kegiatan amar ma'ruf nahi munkar adalah sedekah.

Zakat, Infaq dan Wakaf merupakan bagian dari sedekah, zakat disebut sebagai sedekah wajib sedangkan infaq dan wakaf bernilai sunnah.

Sabda Rosul dalam hadits muttafaqun 'alaih:

"Setiap kebaikan itu adalah sedekah".

 Dalam hadits lain disebutkan:

"Senyummu pada saudaramu adalah sedekah"

Sebuah program menarik tentang pelestarian lingkungan dilaksanakan Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur. Di kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java” itu digalakkan gerakan “Sedekah Oksigen”. Soft launching gerakan ini dilakukan pada malam pergantian tahun baru lalu di Alun-Alun Banyuwangi yang ditandai dengan pemutaran video tentang pentingnya udara bersih dan penanaman bibit pohon trembesi.

“Bumi yang hijau adalah rumah bagi semua makhluk hidup. Ia menjadi tempat berteduh, sumber makanan, sekaligus penghasil oksigen untuk pernapasan bagi semua makhluk yang ada di dalamnya. Kita semua patut menjaganya,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam rilis yang diterima merdeka.com, Senin (6/1)

Anas mengatakan, saat ini kualitas udara mulai berkurang, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan dan masa depan generasi. Ratusan ribu orang meninggal tiap tahunnya akibat dari penyakit yang ditimbulkan dari berkurangnya kualitas udara.

“Perubahan tak pernah datang dari sesuatu yang besar. Karena itu, kami menggalang gerakan peningkatan kualitas udara. Dari Banyuwangi, satu per satu dari kita bertekad untuk menghijaukan daerah dan membersihkan udara dari polutan pencemar,” kata bupati berusia 40 tahun ini.

Maka Banyuwangi pun mendesain gerakan “Sedekah Oksigen”. Ini adalah gerakan berbasis partisipasi warga yang mengajak semua elemen terlibat dalam lomba menyumbangkan lebih banyak oksigen agar udara yang kita hirup lebih bersih dan sehat.

“Oksigen memiliki peran yang penting bagi manusia. Manusia bisa hidup beberapa hari tanpa makanan dan air, tetapi tidak dapat hidup selama beberapa menit saja tanpa oksigen,” kata Anas.

Jika dikonversikan ke dalam rupiah, kata Anas, kita semua akan tercengang dengan betapa pemurahnya Tuhan kepada manusia. Dalam sehari, manusia menghirup oksigen sebanyak 2880 liter. Harga oksigen per liter berkisar mulai Rp 25 ribu. Jika dikalikan, butuh dana Rp 72 juta per hari jika kita harus membeli oksigen atau Rp 67 miliar per tahun.

“Namun kita tidak mengeluarkan sepeser pun untuk menghirup oksigen. Ya makanya ayo giat tanam pohon. Kita tunjukkan bahwa kita tidak tinggal diam,” tegas Anas.

Turunan dari gerakan “Sedekah Oksigen” ini antara lain mewajibkan pasangan yang akan bercerai untuk menanam pohon trembesi. Demikian pula pembeli kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor, diwajibkan mendonasikan satu bibit tanaman. “Peraturannya sedang kami siapkan,” ujarnya.

Selain itu, di lingkungan pemerintahan, sebanyak 13.000 PNS diwajibkan membawa tanaman ke kantor dan memeliharanya hingga tumbuh subur. Ada tim khusus yang memantau perkembangan tanaman tersebut untuk kemudian dilaporkan ke masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Di area perkantoran tak diperbolehkan ada penebangan pohon. “Juga tidak boleh ada bunga palsu di kantor,” katanya.

Anas mengatakan, Sedekah Oksigen adalah gerakan dari Banyuwangi untuk Indonesia. “Menjaga lingkungan, menjaga Indonesia, menjamin hak generasi penerus untuk hidup di lingkungan yang baik,” kata Anas.

Gerakan “Sedekah Oksigen” ini melibatkan seluruh elemen. Jadi masyarakat luas bisa menyumbang satu tanaman. “Secara berkala akan kami laporkan perkembangan tanaman itu melalui email, jadi mereka tahu dan percaya bahwa tanamannya tumbuh baik di kabupaten kami. Sekarang sedang kami siapkan infrastruktur website-nya sehingga bisa diakses publik luas. Begitu website selesai, langsung kami luncurkan, jelas Anas.

Banyuwangi memang gencar menanam pohon. Penanaman pohon dilakukan untuk merehabilitasi lahan kritis seluas 1.420 hektar, dan di sepanjang sempadan sungai seluas 32 hektar dengan total bibit yang ditanam sebanyak 238.200 bibit. Konservasi mata air dilakukan dengan penanaman pohon sebanyak 19.500 bibit.

Sepanjang 2012, sebanyak 3.778.510 bibit berbagai tanaman seperti mahoni, trembesi, sawo kecik, jabon, manggis, melinjo dan meranti ditanam di berbagai lahan, mulai dari kebun rakyat, penghijauan perkotaan dan wilayah industri hingga di sepanjang sungai.

Komitmen Pemkab Banyuwangi terhadap penghijauan mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai juara satu Lomba Penanaman Satu Miliar Pohon tingkat nasional.

Sumber : http://merdeka.com

Monday, September 15, 2014

Memahami Sedekah

MEMAHAMI SEDEKAH

Pengertian sedekah

Sedekah secara bahasa berasal dari huruf shad, dal, dan qaf, serta dari unsur ash-shidq yang berarti benar atau jujur. Sedekah menunjukkan kebenaran penghambaan seseorang kepada Allah ta’ala.

Secara etimologi, sedekah ialah kata benda yang dipakai untuk suatu hal yang diberikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian sedekah adalah pemberian kepada orang lain dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, dan diberikan kepada orang yang sangat membutuhkan tanpa mengharapkan pengganti pemberian tersebut.

Sedekah adalah nafkah yang diharapkan mendapatkan pahala dengannya. Sedekah adalah amalan yang paling utama dan amat dicintai oleh Alloh Ta’ala. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Umar radhiallohu ‘anhuma yang diriwayatkan secara marfu’:

“Amalan yang paling dicintai oleh Alloh Ta’ala adalah engkau memberikan rasa gembira kepada orang mukmin, meringankan bebannya, membayar hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”

Firman Allah SWT:

"Dan bersedekalah pada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah. ( Q.S. Yusuf : 88 )

Keutamaan dari sedekah

a. Sedekah merupakan salah satu amal shaleh yang tidak akan terputus pahalanya
b. sedekah merupakan tabungan untuk hidup diakhirat kelak.

Rukun dan Syarat Sedekah

Rukun sedekah dan syaratnya masing-masing adalah sebagai berikut :
  • Orang yang memberi, syaratnya orang yang memiliki benda itu dan berhak untuk mentasharrufkan ( memperedarkannya )
  • Orang yang diberi, syaratnya berhak memiliki. Dengan demikian tidak sah memberi kepada anak yang masih dalam kandungan ibunya atau memberi kepada binatang, karena keduanya tidak berhak memiliki sesuatu.
  • Ijab dan qabul, ijab ialah pernyataan pemberian dari orang yang memberi sedangkan qabul ialah pernyataan penerimaan dari orang yang menerima pemberian.
    Barang yang diberikan, syaratnya barang yang dapat dijual
    Perbedaan shadaqah dan infak, bahwa shadaqah lebih bersifat umum dan luas, sedangkan infak adalah pemberian yang dikeluarkan pad a waktu menerima rizki atau karunia Allah. Namun keduanya memiliki kesamaan, yakni tidak menentukan kadar, jenis, maupun jumlah, dan diberikan dengan mengharap ridha Allah semata.
  • Berssedekah haruslah dengan niat yang ikhlas, jangan ada niat ingin dipuji (riya) atau dianggap dermawan, dan jangan menyebut-nyebut shadaqah yang sudah dikeluarkan, apalagi menyakiti hati si penerima. Sebab yang demikian itu dapat menghapuskan pahala shadaqah. Allah berfirman dalam surat AI Baqarah ayat 264 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan ( pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti ( perasaan si penerima ), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia …” (QS. AI Baqarah : 264)

Sumber: http://syaahwaall.blogspot.com/2014/01/makalah-tentang-wakaf-hibah-sedekah-dan.html

Manfaat Sedekah

Manfaat Sedekah

Sering kali, kita beranggapan sedekah hanya berguna bagi penerima. Jarang disadari sedekah berfaedah juga bagi pelakunya. Secara rohani, sedekah menjadi sarana penyucian diri dari dosa dan sifat kikir. Allah berfirman, ''Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka. Dengan sedekah, kamu membersihkan dan menyucikan mereka.'' (QS Attaubah [9]: 103).

Secara sosial, sedekah memupuk solidaritas dan pemberdayaan harkat ataupun martabat kaum lemah, fakir, miskin, dan yatim (baik dalam pengertian nasab maupun sosial, yaitu mereka yang tidak punya pekerjaan). Kalangan ekonomi tertinggal banyak terbantu, seperti mempercepat pemerataan kesejahteraan yang mampu menekan angka kriminalitas secara signifikan.

Sedekah akan berfungsi sebagai neraca keadilan yang menjembatani ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Kondisi lingkungan sosial tidak sehat bila orang kaya menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk hiburan, sementara banyak orang miskin tidak makan tiga hari tiga malam. Urwah bin Zubair menyindir, bila orang kaya tidak dermawan, lantas apa bedanya dengan orang miskin?

Belum lagi, adanya fakta seorang ibu tega membunuh anaknya karena lapar. Jika kita melek sedekah dan sadar masih banyak tetangga miskin, semua berita tragis itu tidak perlu terjadi. Makna etimologis sedekah sejajar dengan arti keimananan (ashshidqu), yaitu upaya membenarkan keimanan dengan perbuatan. Termasuk, keimanan palsu jika seseorang mengaku mukmin, tetapi tidak dermawan. Rasulullah bersabda, ''Perilaku dermawan, bukti keimanan.'' (HR Muslim). Sebaliknya, Allah mengecam orang yang menghardik pengemis dan anak yatim sebagai mendustakan agama dan keimanan (QS Alma'un [107]: 1-3).

Ingatlah, ada janji besar bagi mereka yang suka meringankan beban orang lain. Sabda Rasulullah SAW, ''Barang siapa meringankan seorang mukmin dari kesulitan dunia, Allah kelak meringankannya dari kesulitan hari kiamat.'' (HR Muslim).

Kesenjangan tidak akan menganga lebar apabila lahir orang-orang dermawan yang mau menyisihkan harta guna membantu yang berkekurangan. Kedudukan orang dermawan begitu mulia di hadapan Allah. Mereka yang suka bersedekah di kala senang dan susah, mereka itulah orang yang dijanjikan Allah dengan ampunan dan surga seluas hamparan langit dan bumi (QS Alimran [3]: 133-134).

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/01/27/n015rj-manfaat-sedekah

Kisah Sedekah Dengan Cara Yang Berbeda

Kisah Sedekah Dengan Cara Yang Berbeda 
Oleh: Abi Sabila
Sepi. Agen bus antar kota antar propinsi ini masih terlihat sepi. Hanya ada lima orang di ruang tunggu, itupun bukan semuanya calon penumpang, kuyakin dua di antaranya hanya sekedar mengantar. Setelah mengkonfirmasi tiket yang kubeli pagi tadi di loket penjualan, aku bergabung dengan mereka. Sengaja kupilih bangku panjang di barisan paling belakang. Waktu lima belas menit sebelum jadwal keberangkatan masih cukup untuk aku beristirahat. Malah bisa lebih lama karena biasanya bus selalu datang terlambat, mudah-mudahan kali ini tidak.

Tak sampai lima menit sejak kedatanganku, datanglah seorang calon penumpang lainnya. Seorang laki-laki muda yang tak kukenal. Setelah tersenyum padaku, laki-laki itu duduk tepat di depanku. Tak banyak bicara, sekedar basa-basi kota mana yang ia tuju, setelah itu saling diam.

Aku mengambil handphone dari tas kecilku, kukabarkan pada ibu bahwa aku sudah sampai di agen bus dan tentu saja masih harus menunggu. Juga kukirimkan satu sms untuk keponakanku di Tangerang, bahwa aku jadi pulang sore ini dan minta ia menjemput di agen bus besok pagi.
Saat asyik mengetik sms, aku tak menyadari kalau seorang calon penumpang datang lagi dan berjalan ke arahku.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alikum salam” jawabku agak terkejut, ternyata aku mengenal calon penumpang yang baru datang. Pak Agus, sebut saja begitu. Beliau tetangga satu kampung denganku.

Obrolan hangatpun segera terjadi. Cukup lama kami tak saling bertemu, mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Seingatku, sejak aku lulus sekolah dan menyusul kakakku di Tangerang, baru kali ini bertemu lagi. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari saling bertanya keluarga hingga pekerjaan masing-masing.

Waktu terasa berjalan lebih cepat. Keramahan dan keterbukaan Pak Agus menjadikan obrolan kami semakin hangat dan bersahabat.

Banyak hal bermanfaat yang kudapatkan sore itu. Salah satunya ketika aku bertanya siapa yang mengantarnya sore itu, aku tak melihat ada orang lain bersamanya. Seluruh warga di kampungku tahu, bahwa Pak Agus berasal dari keluarga berada. Tapi tidak semuanya tahu ( salah satunya aku ) bahwa setiap pulang kampung, untuk kemana-mana Pak Agus lebih senang menyewa becak ketimbang naik mobil atau motor yang berjejer di garasinya. Termasuk sore ini, Pak Agus datang ke agen bus diantar Kang Ndoyo, tukang becak yang biasa mangkal di perempatan dekat balai desa. Aku memang tak melihat Kang Ndoyo lagi sebab setelah mengantarkan Pak Agus, dia langsung ke stasiun mencoba menjemput rejeki melalui para penumpang kereta yang baru tiba dari berbagai kota.

“Memangnya semua sedang sibuk, sehingga tidak ada yang sempat mengantar ke sini Pak?” tanyaku sekedar ingin tahu.

“Tidak juga, semua keluarga sedang kumpul di rumah. Tadi adik ipar juga maksa ingin mengantar dengan mobil, tapi saya tolak. Saat pulang kampung seperti sekarang ini, saya lebih senang kemana-mana naik becak.”

“Bisa bernostalgia ya Pak. Di Jakarta kan sekarang becak sudah tidak boleh beroperasi lagi?” potongku, sok tahu.

“Itu salah satunya. Selain itu, kalau tidak begitu, saya tidak tahu cara lain untuk berbagi dengan saudara-saudara kita di sini.”

“Maksudnya?” aku belum paham apa yang beliau maksudkan.

“Maksud saya begini, Mas. Setiap pulang kampung, sedikit apapun saya usahakan untuk bisa berbagi dengan saudara dan kawan lama yang sebagian besar tetap tinggal di kampung. Ada yang jadi petani, ada juga yang jadi tukang becak, seperti Kang Ndoyo. Saya tidak meremehkan penghasilan mereka, tapi kita bisa melihat kehidupan mereka yang masih sederhana, sangat sederhana malah. Tidak salah kan kalau kita berbagi sedikit rejeki dengan mereka. Hanya saja, kalau tiba-tiba saya datang dan memberikan sejumlah uang atau barang, sedangkan mereka tidak melakukan apa-apa, kok rasanya kurang sreg di hati.”

“Yang saya takutkan, bukannya mereka senang, tapi justru membuat mereka tersinggung atau berfikir yang macam-macam, nanti malah bisa menimbulkan fitnah. Akhirnya saya pikir dengan menyewa becak atau minta tolong ini dan itu, saya bisa tetap berbagi, dan mereka tidak perlu merasa direndahkan karena mereka sudah bekerja, mengeluarkan tenaga. Tidak selalu banyak, sekedar lebih dari upah yang biasa mereka terima, itu sudah cukup membuat mereka bahagia. Bukankah memberikan kail lebih baik daripada langsung memberi ikannya?” panjang lebar Pak Agus menjelaskan.

Benar sekali apa yang beliau sampaikan, dan ini hampir tak terpikirkan olehku. Kalaupun sore itu aku datang ke agen bus juga dengan menyewa becak, itu lantaran tak ada yang bisa mengantar. Menjelang ujian, keponakanku yang biasanya mengantar semakin sering mengikuti pelajaran tambahan. Juga tadi pagi, saat aku membeli tiket, aku malah lebih memilih pinjam motor kakakku ketimbang menyewa becak, seperti yang Pak Agus lakukan.

Astaghfirulloh, ternyata banyak sekali kesempatan berbuat baik yang aku lewatkan saat pulang kampung seperti ini. Bahkan, meski aku dan Pak Agus sama-sama datang ke agen bus ini dengan naik becak, niat dan kesadaran kami tidaklah sama. Pak Agus begitu pandai melihat peluang untuk berbagi dengan sesama. Pak Agus begitu cerdas memanfaatkan kesempatan ini hingga orang lain yang ia tolong barangkali tak menyadari bahwa Pak Agus sengaja menyewa becak mereka bukan karena ingin bernostalgia, tapi karena ingin berbagi rejeki tanpa membuat orang lain tersinggung apalagi sakit hati.

Alhamdulillah, aku bersyukur sekali bertemu dengan beliau sore itu. Perbincangan yang hangat sekaligus bermanfaat. Sayang, kami tak bisa berbincang lebih lama lagi karena bus AC eksekutif yang ditunggu Pak Agus sudah lebih dulu datang.

“Bus saya sudah datang, saya pamit dulu, Mas. Maaf ya kalau ada perbincangan yang kurang berkenan. Njenengan hati-hati di jalan, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi, insya Allah. Assalamu’alaikum,” sopan beliau berpamitan.

“Wa’alaikum salam, Bapak juga hati-hati. Terima kasih, saya banyak mengambil pelajaran dari perbincangan singkat ini. Sampaikan salam saya untuk keluarga,” agak gemetar tanganku saat bersalaman dengannya.

Dua menit berikutnya, bus AC eksekutif jurusan Jakarta itupun bergerak perlahan. Dibalik jendela, kulihat Pak Agus tersenyum, melambaikan tangan ke arahku. Kubalas dengan hal yang sama.

Cara berbagi yang cerdas, aku mengakui itu. Ini bukan omong kosong. Apa yang beliau katakan benar, dan beliau telah membuktikannya. Beliau juga telah membagi tipsnya padaku, bagaimana berbagi dengan cara yang cerdas, cara yang tak membuat orang malas, tersinggung apalagi sakit hati.

Sumber: http://abisabila.blogspot.com

Rajin Sedekah Mempermudah Rezeki

Rajin Sedekah Mempermudah Rezeki

Lagi, buat antum semuanya... ini ada artikel sedekah yang mungkin bisa membuat kita semakin mantab untuk mengamalkannya. Syukron atas materinya mas bro, semoga Alloh membalas kelak di akhirat, amin. Berikut artikel Rajin sedekah mempermudah rezeki yang saya pindah dari http://rumahbukuiqro.wordpress.com.

Beberapa pekan ini, sempat bertemu dengan seorang pengusaha yang bisa dibilang sangat mapan. Hartanya banyak tapi orangnya biasa aja, ga keliatan mewah, kemana mana pake motor juga terlalu malu. Padahal mobil ada, tapi beliau sering bilang yang penting gampang kesana kesini. Ketika ditanya apa rahasia kekayaannya, rajin sedekah bakal mempermudah rezeki kita.

Benar sekali, beliau punya kebiasaan untuk selalu menyisihkan secara otomatis dari penghasilannya untuk sedekah. Kalau ada peluang sedekah dimanapun, dia pasti keluarin.

Kalau kita terbiasa sedekah, lama lama juga nanti enteng, mau sedekah 100 ribu juga nanti enteng…. kalo sama uang udah enteng, kita nanti ga akan khawatir sama rezeki kita…

Hanya saja, di kalangan kita ini masih banyak yang justru keliru dalam sedekah. Sedekah itu butuh keyakinan, bukan cuma hitung hitungan. Kalau kita yakin nih ye, insyaAllah Allah balas. Bahkan kalo kita ga yakin, Allah juga tetep bales!

Buat yang suka hitung hitungan, mirip kaya cerita guru kami pa Heppy Trenggono, ketika beliau pergi ke suatu tempat, ada seseorang yang bilang, saya udah ga percaya sama sedekah!

Alesannya, soalnya dia udah ngeluarin sedekah biar dagangannya laku, dia jualan es kelapa, dia keluarin sedekah biar jualannya laku. Tapi ternyata malah hujan. Ngapain sedekah kalo hujan.

Orang yang sedekah jadi kebiasaannya, mentalnya bukan seperti ini. Dia enteng ngeluarin rezeki, dan yakin Allah itu pasti ngasih balesannya. Orang yang yakin Allah itu sumber rezeki, pasti tetep optimis meskipun hujan dateng.

Orang yang yakin Allah itu sumber rezekinya, pasti tetep optimis meskipun dalam 1 hari ga ada yang beli satupun. Dia tetep khusnudzan, tetep yakin. Inilah kenikmatan paling besar.

Balik lagi ke sedekah, sedekah itu yang mempermudah rezeki, dan bisa kita latih dari nominal yang kecil dulu… Kalo udah konsisten insyaAllah naik ke nominal yang lebih tinggi juga bakal lebih mudah lagi rezeki yang kita dapet. insyaAllah

Sumber:http://rumahbukuiqro.wordpress.com/2014/01/20/rajin-sedekah-mempermudah-rezeki/

Sunday, September 14, 2014

Beberapa Keutamaan Sedekah yang Membawa Berkah

Beberapa Keutamaan Sedekah yang Membawa Berkah

Ikhwan, inilah beberapa keutamaan sedekah yang saya yang ane kutip dari blog saudara kita, selamat membaca semoga beberapa keutamaan sedekah ini bisa memperluas wawasan anda dalam memperdalam ilmu dalam bersedekah anda. Berikut artikel Beberapa Keutamaan Sedekah yang Membawa Berkah:

Jika ada orang kaya mengatakan padamu 'sedang engkau yakin tentang kejujurannya', berilah si fulan ini dan itu, besok engkau akan kuberi sesuatu yang lebih baik daripadanya, apakah engkau akan enggan menuruti kemauannya? Tentu, sedetik pun engkau tidak akan terlambat memenuhi keinginannya sebab engkau akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Lalu, apakah lagi jika yang menjanjikan kepadamu itu Allah Azza Wajalla, Pemilik langit dan bumi, Dzat Yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Maha Kaya? Allah berfirman:
"Dan kebaikan apa saja yang engkau perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya". (Al Muzzammil: 20)

Orang yang berinfak (bersedekah) di jalan Allah seakan-akan memberi pinjaman kepada Allah, padahal Dia adalah Maha Kaya dan Maha Pemberi. Pilihan kata "qardh" (pinjaman) tentu karena begitu sangat mulianya kedudukan orang yang berinfak di sisi Allah. Di samping, kata "qardh" membawa makna hutang piutang, yang berarti Allah 'Dzat yang tidak menyelisihi janji-Nya' pasti membayar hutangNya tersebut.

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan". (Al Baqarah: 245)

Dan, berinfak di jalan Allah adalah suatu perdagangan yang pelakunya tak akan pernah merugi sepanjang masa. Ia adalah perdagangan yang mengalirkan ridha Allah dan anugerah-Nya yang luas. Lihat (Q.S. 35: 29-30).

Di ayat lain Allah menegaskan, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran: 133-134).

Bersegeralah saudaraku menuju Surga yang memang diperuntukkan Allah bagi segenap hamba-Nya yang bertakwa, yang di antara sifat-sifat mereka adalah menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit.

Suatu kali, ada seorang Salaf yang berthawaf di Ka'bah seraya berulang-ulang membaca do'a, "Ya Allah, jagalah diriku dari sifat kikir, ya Allah jagalah diriku dari sifat kikir." Sehingga ada yang menegur, wahai hamba Allah, apakah engkau tidak mengetahui selain do'a ini? Ia menjawab, sesungguhnya Allah berfirman:
"Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung". (Al Hasyr: 9)

Sebaliknya, orang yang menimbun hartanya dan tidak mau menafkahkan sebagian daripadanya kelak pada Hari Kiamat Allah akan mengalungkan harta yang ia bakhilkan tersebut di batang lehernya, (Q.S.: 3: 180). Dengan emas dan peraknya 'padahal di dunia keduanya amat ia banggakan' yang telah dipanaskan dalam Neraka Jahannam, dahi, lambung dan punggung mereka dibakar/diseterika, (Q.S. 9:34-35)

Adapun keberuntungan atau faedah menafkahkan harta di jalan Allah adalah sangat banyak, disini akan disebutkan sembilan saja dari hikmah/manfaatnya:

1. Allah menjamin nafkah orang tersebut. Dalam hadits Qudsi disebutkan:
"Wahai anak Adam, berinfaklah niscaya Aku (menjamin) nafkahmu". (Muttafaq Alaih)

2. Mendapatkan kebaikan saat tibanya Hari Penyesalan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Barangsiapa bersedekah senilai satu biji kurma dari hasil kerja(nya) yang baik 'dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik' maka sungguh Allah menerimanya dengan Tangan KananNya, lalu merawatnya sebagaimana salah seorang dari kamu merawat anak kuda/ untanya sehingga (banyaknya) seperti gunung, karena itu bersedekahlah!" (Muttafaq Alaih)

3. Bersedekah bisa menghapuskan dosa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Puasa adalah benteng, sedangkan sedekah melenyapkan kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api." (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi, ia berkata hadits hasan shahih)

4. Nama harum di tengah-tengah masyarakat. Orang yang senang berinfak dan menyelesaikan kesulitan orang lain akan menjadi buah bibir dalam hal kebaikan. Berbeda dengan orang yang kikir, ia akan menjadi tumpuan kebencian orang lain karena hanya menumpuk harta bendanya untuk dirinya sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham..."(HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

5. Berinfak adalah salah satu akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara perbuatan yang sangat beliau cintai adalah memberi, bahkan memberikan sesuatu yang sangat beliau butuhkan sendiri, seperti pakaian yang sedang beliau kenakan. Demikian menurut hadits riwayat Bukhari dari Sahl bin Sa'ad Radhiallahu Anhu.

6. Berinfak menyebabkan rezki bertambah, berkembang dan penuh berkah. Lihat kembali (Q.S. 2:245)

7. Sedekah menyebabkan pemiliknya mendapat naungan pada Hari Pembalasan. Kelak pada Hari Pembalasan, saat kesulitan manusia memuncak dan matahari didekatkan dengan ubun-ubun manusia. Ketika itulah orang-orang yang suka bersedekah mendapat jaminan.

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu Anhu disebutkan, ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satunya adalah, "Laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya". (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Kecintaan Allah dan kecintaan manusia terhadapnya. Orang yang suka memberi akan dicintai orang lain, sebab secara fithrah manusia mencintai orang yang berbuat baik padanya. Seorang penyair bersenandung,

"Berbuat baiklah kepada manusia, niscaya engkau menaklukkan hatinya. Sungguh, kebaikanlah yang menakluk-kan manusia. Berbuat baiklah jika engkau bisa dan kuasa, karena tidak selamanya orang kuasa berbuat baik".

9. Kemudahan melakukan ketaatan. Allah menolong orang yang suka bersedekah dalam melakukan berbagai keta'atan, sehingga ia merasa mudah melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman:
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". ( Al Lail: 5-7)

Mudah-mudahan Allah menggolongkan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang suka bersedekah. Amin...

Sumber: http://tipspengetahuan.com
             
Yusuf Mansur Network/Facebook