Friday, August 8, 2014

Perbedaan Antara Zakat, Sedekah, Infak, Hibah, dan Hadiah

zakat-sedekahPerbedaan Antara Zakat, Sedekah, Infak, Hibah, dan Hadiah
By: Konsultasi Syariah

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Memahami berbagai istilah yang berlaku dalam disiplin ilmu apapun sangatlah penting, tanpa terkecuali ilmu syariat. Oleh karena itu, sejak dahulu para ulama senantiasa menjabarkan pemahaman berbagai istilah yang yang berlaku pada setiap bab dengan detail.

Seakan tidak ingin ketinggalan, Ibnul Qayyim termasuk salah satu ulama yang paling gigih menekankan pentingnya penggunaan berbagai istilah syariat sebagaimana digunakan dalam Alquran dan hadis. Terlebih bagi para ulama yang bertugas menjelaskan hukum-hukum syariat kepada masyarakat luas. Beliau beralasan atas penekanannya ini bahwa penggunaan istilah syariat dengan benar dapat menyelamatkan kita dari kesalahan dalam memahami hukum Allah ‘Azza wa Jalla. Dan sebaliknya salah memahami atau salah penempatan istilah syariat dapat berakibat fatal bagi pemahaman Anda tentang syariat Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagaimana beliau juga memberikan peringatan bahwa di tengah masyarakat telah meraja lela penggunaan istilah-istilah syariat yang tidak sebagaimana mestinya. Akibat dari kecerobohan ini terjadilah penyimpangan dan kesalahan fatal dalam kehidupan beragama masyarakat. (I’ilamul Muwaqiin, 4:216).

Menyadari hal ini, saya mengajak Anda untuk lebih jauh mengenal dengan baik berbagai istilah syariat. Harapannya Anda semakin dekat dengan agama Allah, dan selanjutnya Allah-pun semakin dekat dengan Anda.

Mengenal Arti Zakat


Di masyarakat beredar pemahaman bahwa zakat adalah sejumlah harta yang telah ditentukan jenis,  kadar, dan yang dibayarkan berhak menerimanya pada waktu yang telah ditentukan pula. Dan zakat inilah yang merupakan salah satu rukun agama Islam. Allah tegaskan dalam Alquran, yang artinya,

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al Baqarah 43)

Pemahaman di atas benar, namun perlu diingat kadangkala para ulama menggunakan kata zakat pada zakat sunah.

Ibnul Arabi berkata: Kata zakat digunakan untuk menyebut zakat wajib, namun kadang kala juga digunakan untuk menyebut zakat sunah, nafkah, hak, dan memaafkan suatu kesalahan.” (Fathul Bari, 3:296)

Mengenal Makna Sedekah

Kata sedekah dalam banyak dalil memiliki makna yang sama dengan kata zakat, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut, yang artinya,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At Taubah: 103)

Dalam hadis yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:
“Bila anak Adam meninggal dunia maka seluruh pahala amalannya terputus, kecuali pahala tiga amalan: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan kebakan untuknya.” (QS. at-Tirmidzi dan lainnya)

Berdasarkan ini semua, Imam Mawardi menyimpulkan: 
Sedekah adalah zakat dan zakat adalah sedekah. Dua kata yang berbeda teksnya namun memiliki arti yang sama. (al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Hal. 145)

Dengan demikian sedekah mencakup yang wajib dan mencakup pula yang sunah, asalkan bertujuan untuk mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itu, sering kali Anda tidak perduli bahkan mungkin tidak merasa perlu untuk mengenal nama penerimanya.

Walau demikian, dalam beberapa dalil, kata sedekah memiliki makna yang lebih luas dari sekedar membayarkan sejumlah harta kepada orang lain. Sedekah dalam beberapa dalil digunakan untuk menyebut segala bentuk amal baik yang berguna bagi orang lain atau bahkan bagi diri sendiri.

Suatu hari sekelompok sahabat miskin mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal rasa cemburu mereka terhadap orang-orang kaya. Orang-orang kaya mampu mengamalkan sesuatu yang tidak kuasa mereka kerjakan yaitu menyedekahkan harta yang melebihi kebutuhan mereka. Menanggapi keluhan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi kepada mereka melalui sabdanya:

“Bukankah Allah telah membukakan bagi kalian pintu-pintu sedekah? Sejatinya setiap ucapan tasbih bernilai sedekah bagi kalian, demikian juga halnya dengan ucapan takbir, tahmid, dan tahlil. Sebagaimana memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran juga bernilai sedekah bagi kalian. Sampai pun melampiaskan syahwat kemaluan kalian pun bernilai sedekah.” Tak ayal lalgi para sahabat keheranan mendengar penjelasan beliau ini, sehingga mereka kembali bertanya: “Ya Rasulullah, apakah bila kita memuaskan syahwat, kita mendapatkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapatmu bila ia menyalurkannya pada jalan yang haram, bukankah dia menanggung dosa?” Demikian pula sebaliknya bila ia menyalurkannya pada jalur yang halal, maka iapun mendapatkan pahala. (HR. Muslim)

Mengenal Makna  Infak

Kata infak dalam dalil-dalil Alquran, hadis dan juga budaya ulama memiliki makna yang cukup luas, karena mencakup semua jenis pembelanjaan harta kekayaan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).

Hal serupa juga nampak dengan jelas pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

“Kelak pada hari Qiyamat, kaki setiap anak Adam tidak akan bergeser dari hadapan Allah hingga ditanya perihal lima hal: umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia lewatkan, harta kekayaannya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan (belanjakan) dan apa yang ia lakukan dengan ilmunya.” (HR. at-Tirmidzi)

Kemanapun dan untuk tujuan apapun, baik tujuan yang dibenarkan secara syariat ataupun diharamkan, semuanya disebut dengan infak. Oleh karena itu, mari kita simak kisah perihal ucapan orang-orang munafik yang merencanakan kejahatan kepada Rasulullah dan para sahabatnya, Allah ceritakan, yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.”
  (QS. Al-Anfal: 36)

Oleh karena itu pada banyak dalil perintah untuk berinfak disertai dengan penjelasan infak di jalan Allah, sebagaimana pada ayat berikut, yang artinya,

“Dan infakkanlah/belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Mengenal Makna Hibah

Ketika Anda memberikan sebagian harta kepada orang lain, pasti ada tujuan tertentu yang hendak Anda capai. Bila tujuan utama dari pemberian Anda adalah rasa iba dan keinginan menolong orang lain, maka pemberian ini diistilahkan dalam syariat Islam dengan hibah. Rasa iba yang menguasai perasaan Anda ketika mengetahui atau melihat kondisi penerima pemberian lebih dominan dibanding  kesadaran untuk memohon pahala dari Allah. Sebagai contoh, mari kita simak ucapan sahabat Abu Bakar ketika membatalkan hibahnya kepada putri beliau tercinta Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Wahai putriku, tidak ada orang yang lebih aku cintai agar menjadi kaya dibanding engkau dan sebaliknya tidak ada orang yang paling menjadikan aku berduka bila ia ditimpa kemiskinan dibanding engkau. Sedangkan dahulu aku pernah memberimu hasil panen sebanyak 20 wasaq (sekitar 3.180 Kg). Bila pemberian ini telah engkau ambil, maka yang sudah tidak mengapa, namun bila belum maka pemberianku itu sekarang aku tarik kembali menjadi bagian dari harta warisan peninggalanku.” (HR. Imam Malik)

Mengenal Makna Hadiah


Diantara bentuk pemberian harta kepada orang lain yang juga banyak dikenal oleh masyarakat ialah hadiah. Dan saya yakin Anda pernah memberikan suatu hadiah kepada orang lain atau mungkin juga Anda menerimanya dari orang lain. Tentu Anda menyadari bahwa hadiah Anda tidaklah Anda berikan kepada sembarang orang, apalagi orang yang belum Anda kenal. Hanya orang-orang spesial dalam hidup Anda yang berhak mendapatkan hadiah Anda.

Hadiah yang Anda berikan kepada seseorang, sejatinya hanyalah salah satu bentuk dari penghargaan Anda kepadanya. Sebagaimana melalui hadiah yang Anda berikan, seakan Anda ingin meningkatkan keeratan hubungan antara Anda berdua. Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengartikan makna hadiah dalam kehidupan masyarakat melalui sabdanya:

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian saling cinta mencintai.”  (HR. Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)

Berdasarkan ini, Anda dapat mengetahui berbagai pemberian yang selama ini oleh berbagai pihak disebut dengan hadiah, semisal hadiah pada pembelian suatu produk, atau undian atau lainnya. Pemberian-pemberian ini sejatinya tidak layak disebut hadiah, mengingat semuanya sarat dengan tujuan komersial, dan bukan untuk meningkatkan keeratan hubungan yang tanpa pamrih.

Catatan Redaksi Pengusaha Muslim

Uraian di atas adalah artikel yang ditulis Dr. Muhammad Arifin Baderi dan telah diterbitkan di majalah Pengusaha Muslim edisi 29. Pada edisi ini, majalah Pengusaha Muslim secara khusus mengupas seputar zakat, infaq, dan sedekah.

Semoga bermanfaat.
Sumber:www.pengusahamuslim.com

Mengharap Kaya dengan Sedekah

Mengharap Kaya dengan Sedekah
By:Konsultasi Syariah

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Allah ‘Azza wa Jalla Maha Pemurah, sehingga nikmat dan karunia-Nya senantiasa menyertai hidup umat manusia. Begitu pemurahnya Allah ‘Azza wa Jalla sampai-sampai nikmat-Nya dapat dirasakan sampaipun oleh orang-orang kafir dan yang banyak bergelimang dalam dosa. Yang demikian itu karena nikmat dunia tiada artinya di sisi Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

“Andai kehidupan dunia di sisi Allah senilai sayap nyamuk niscaya Allah tidak mungkin membiarkan orang kafir menikmati walau hanya seteguk air.”  (HR. At-Tirmizy).

kaya dan sedekah
Demikianlah kedudukan harta kekayaan dunia di sisi Allah, sehingga wajar bila orang kafir dapat saja menjadi kaya bahkan mungkin juga orang terkaya di dunia ini. Namun beda halnya dengan iman kelapangan dada dengan cahaya takwa. Iman dan takwa begitu bernilai disisi Allah sehingga hanya diberikan kepada hamba yang Allah cintai. Sebagaimana yang dituturkan oleh junjungan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sejatinya Allah telah membagi akhlaq kalian sebagaimana Allah juga telah membagi rezeki kalian. Dan sejatinya Allah ‘Azza wa Jalla dapat saja memberi kakayaan dunia kepada orang  yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun untuk urusan agama, maka Allah tidak mungkin memberikannya kecuali kepada orang yang Allah cintai. Barangsiapa yang telah Allah berikan bagian dalam urusan agama, maka itu bukti bahwa Allah mencintainya.”
(HR. Ahmad dan lainnya).



Berangkat dari hal ini, Islam mendorong umatnya untuk mengorbankan dunianya demi membangun imannya. Dan sebaliknya, Islam juga mengharamkan atas mereka perbuatan mengorbankan urusan agama demi mendapatkan kepentingan dunia.
Sedekah Agar Kaya

Hidup berkecukupan dan bahkan harta melimpah ruah adalah impian setiap manusia. Bahkan impian ini tidak akan pernah putus sampaipun setelah Anda mencapai umur lanjut.

“Anak keturunan Adam tumbuh kembang dan ada dua hal yang turut tumbuh dan berkembang bersamaan dengan usianya: cinta terhadap harta kekayaan dan angann-angan panjang umur.”
(HR. Bukhari).

Impian menjadi seorang yang kaya raya secara tinjauan hukum syariat adalah sah-sah saja, asalkan tidak menjadikan Anda lupa daratan sehingga menghalalkan segala macam cara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan:

“Jangan pernah engkau merasa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya.  Karena itu, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki: yaitu dengan menempuh jalan yang halal dan meninggalkan jalan yang haram.”
(HR. Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim).

Diantara sikap proporsional dalam mencari kekayaan dunia ialah dengan tidak menjadikan amalan akhirat sebagai sarana mencari kekayaan sesaat di dunia fana ini. Demikianlah dahulu pesan Allah ‘Azza wa Jalla yang disampaikan melalui lisan orang-orang shaleh dari para pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Qarun, yang artinya:

“Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan kekayaan yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”  (QS. Al-Qashash: 77)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan berkata:

Mereka menganjurkan kepada Qarun agar menggunakan karunia Allah berupa harta kekayaan yang melimpah ruah dalam ketaatan kepada Allah. Hendaknya kekayaan yang ia miliki digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk amal kebajikan. Dengannya ia mendapatkan pahala besar baik di dunia maupun di akhirat.

Walau demikian bukan berati ia harus melalaikan kehidupan dunianya dengan tidak makan, minum, pakaian, rumah, dan istri. Yang demikian itu karena Allah memiliki hak, sebagaimana dirinya juga memiliki hak yang harus ia tunaikan. Dan istrinya pun memiliki hak yang harus ia tunaikan demikian pula tamunya juga memiliki hak yang harus ia tunaikan. Karena itu tunaikanlah masing-masing hak kepada pemiliknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:484)

Upaya membangun sukses kehidupan dunia bukan berarti harus mengorbankan segala hal termasuk kehidupan Anda kelak di akhirat. Dan percayalah bahwa bila Anda memenuhi hak-hak Allah, niscaya Allah memudahkan urusan Anda dalam melapangkan rezeki Anda. Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

“Barangsiapa yang orientasinya adalah urusan akhirat, niscaya Allah meletakkan kekayaannya di dalam jiwanya. Sebagaimana Allah juga akan menyatukan urusannya dan kekayaan dunia akan menghampirinya dengan mudah. Namun sebalikya, orang yang orientasinya adalah urusan dunia, niscaya Allah jadikan kemiskinannya ada di depan matanya. Sebagaimana Allah juga mencerai-beraikan  urusannya dan tiada kekayaan dunia yang menghampirinya selain yang telah Allah tentukan untuknya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya).

Apa yang saya sampaikan di sini bukan berarti kehidupan dunia dan akhirat adalah dua hal yang harus dipertentangkan. Bahkan sebaliknya, keberkahan amal shaleh bukan hanya Anda rasakan di akhirat, namun sejak di dunia pun Anda juga pasti dapat merasakannya.

Penjelasan saya ini bertujuan mengajak Anda untuk menyusun ulang keduanya sesuai dengan skala prioritasnya. Dengan senantiasa memperhatikan skala prioritas antara keduanya, Anda terhindar dari perilaku dan pola pikir orang-orang kafir sebagaimana yang dikisahkan pada ayat berikut, yang artinya:

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS. An-Nahl: 107)

Dengan demikian keutamaan akhirat senantiasa menjadi tujuan utama dan motovasi terbesar bagi Anda untuk mengerjakan berbagai amal kebajikan dan amal sholeh.

Sebagai contohnya adalah sedekah. Dalam berbagai dalil ditegaskan bahwa Allah menjanjikan kepada orang yang bersedekah balasan di dunia, berupa digantikan dengan harta yang lebih banyak dan baik, disembuhkan dari penyakit dan lain sebagainya. Walau demikian, bukan berarti Anda dibenarkan untuk menjadikan balasan di dunia sebagai obsesi atau tujuan utama Anda ketika beramal. Disebutkannya keutamaan sedekah di dunia berfungsi sebagai motivasi tambahan agar Anda semakin bersemangat dalam beramal.

Layakkah saudaraku sebagai seorang muslim bila keuntungan dunia dari beramal shaleh lebih menguasai hati Anda dibanding keuntungan akhirat? Pantaskah sebagai orang yang beriman terhadap pembalasan pada hari akhir memiliki pola pikir semacam ini ?

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menceritakan bahwa kelak pada hari kiamat ada empat orang yang pertama kali dihisab, diantaranya:

“Seorang lelaki yang Allah lapangkan rezekinya, sehingga  ia memiliki seluruh jenis harta kekayaan. Ketika ia didatangkan, segera Allah mengingatkannya perihal berbagai jenis nikmat-Nya di dunia, dan ia pun mengakuinya semua. Selanjutnya Allah bertanya kepadanya: Lalu apakah yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat-Ku itu? Ia menjawab: Tidaklah ada satu jalanpun yang Engkau suka bila aku bersedekah padanya melainkan aku telah menyedekahkan hartuku padanya . Namun Allah menghardik lelaki itu dan berfirman: Engkau berdusta, sejatinya engkau melakukan itu agar dikatakan engkau adalah orang dermawan, dan itu telah engkau dapatkan. Selanjutnya ia diperintahkan untuk diseret terbalik di atas wajahnya, dan kemudian dicampakkan ke dalam neraka.”  (HR. Muslim).

Saudaraku! memiliki tujuan skunder dari amal shaleh berupa keuntungan di dunia walaupun dibenarkan, namun tidak diragukan bahwa orang yang hanya memiliki satu tujuan yaitu pahala di akhirat adalah lebih utama. Anda pasti mengetahui bahwa diantara etika bersedekah ialah merahasiakannya, sampai-sampai tangan kiri Anda tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanan Anda. Karena itu dalam banyak dalil balasan dunia tidak disebutkan, sebagaimana ditegaskan pada firman Allah Ta’ala, yang artinya:



“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.”  (QS. Al-Insan: 8-12)

Percayalah, saudaraku, Allah tidaklah pelit atau kikir. Bila Anda senantiasa melapangkan urusan saudara Anda, pastilah Allah membalas Anda dengan yang serupa. Akan tetapi syaratnya bila Anda melakukan amal kebajikan Anda benar-benar karena ikhlas, hanya mengharapkan balasan dari Allah.

Semoga paparan sederhana ini dapat menjadi pencerahan bagi Anda, sehingga tidak terjerumus dalam ketimpangan dengan mengedepankan keuntungan materi dibanding keuntungan akhirat di sisi Allah. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

Catatan:
Keterangan di atas adalah artikel Dr. Muhammad Arifin bin Baderi yang diterbitkan dalam Majalah Pengusaha Muslim edisi 29. Pada edisi ini, majalah Pengusaha Muslim secara khusus mengupas tentang zakat dan sedekah, mulai dari polemik zakat profesi, amil zakat ilegal, mengenal perbedaan infak, zakat, sedekah, dan hibah, dan berbagai artikel menarik lainnya.
Sumber:http://majalah.pengusahamuslim.com/

Monday, August 4, 2014

Hukum Memberikan sedekah kepada Orang Kafir

Hukum Memberikan sedekah kepada Orang Kafir
By: Ammi Nur Baits

Bersedekah kepada Non-Muslim
Pertanyaan
Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh.buku fikih halal haram dalam islam
Ustad,, ana mau tanya….minta tlg dijelaskan tentang memberi shodaqoh kpda keluarga yg berbeda agama ustad… mohon  bimbingannya,

Dari: Sdr. Setiyono

Jawaban:
Wa alaikumus salam warohmatullahi wabarokaatuh
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, kata sedekah dalam bahasa syariat mencakup sedekah wajib dan sedekah sunah.
Sedekah wajib istilah lainnya adalah zakat. Sedangkan sedekah sunah, itulah yang kita kenal dengan kata ’sedekah’.

Ketika Allah ta’ala menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat dalam al-Quran, Allah menyebut zakat dengan kata ’sedekah’.

“Sedekah hanya diberikan untuk orang fakir, muskin, amil….. ” (QS. At-Taubah: 60)

Kedua, ulama berbeda pendapat mengenai hukum memberikan zakat mal kepada orang kafir. Mayoritas ulama melarang hal itu, bahkan Ibnul Mundzir mencatat bahwa para ulama sepakat zakat mal tidak boleh diberikan kepada orang kafir. Beliau mengatakan, Mereka sepakat bahwa tidak sah memberikan zakat mal kepada orang kafir dzimmi. Mereka juga sepakat bahwa kafir dzimmi tidak mendapatkan zakat mal sedikitpun. (al-Ijma’ hlm. 47).



Ketiga, secara umum, sedekah yang kita keluarkan, sangat dianjurkan agar diberikan kepada muslim yang baik dan kurang mampu. Sehingga harta yang kita berikan kepadanya, akan membantunya untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.

Hanya saja, mayoritas ulama – dan ini pendapat yang kuat – berpendapat, sedekah sunah boleh diberikan kepada orang kafir.

An-Nawawi mengatakan,

Dianjurkan agar sedekah itu diberikan kepada orang sholeh, orang yang rajin melakukan kebaikan, menjaga kehormatan dan dia membutuhkan. Namun jika ada orang yang bersedekah kepada orang fasik, atau orang kafir, di kalangan yahudi, nasrani, atau majusi, hukumnya boleh. (al-Majmu’, 6/240).

Imam Ibnu Utsaimin pernah mendapat pertanyaan,

”Bolehkah memberikan sedekah kepada orang kafir?”

Jawaban beliau,

Coba baca firman Allah di surat al-Mumtahanah,

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu..”

Karena itu, boleh membayar sedekah kepada orang kafir, dengan syarat, bukan termasuk orang kafir yang memerangi agama kita, atau menjajah dan mengusir kita dari negeri kita. Namun jika mereka memerangi kita karena agama, atau mengusir kita dari negeri muslim, kita tidak boleh bersedekah kepadanya.

(Liqa’at Bab Maftuh, volume 100, no. 21)

Lebih dari itu, jika sedekah yang kita berikan kepada saudara non muslim ini akan menjadi sebab dia masuk islam, insyaaAllah akan menghasilkan pahala yang besar.


Catatan:
Kita boleh memberikan sedekah secara umum kepada orang kafir yang membutuhkan, terutama yang masih kerabat. Namun seorang muslim tidak boleh memberikan hadiah dalam bentuk apapun dalam rangka memeriahkan hari raya atau ritual apapun yang mereka lakukan. Karena semacam ini termasuk ikut bergembira menyambut hari raya mereka.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Sumber:http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memberikan-sedekah-kepada-kafir/

Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah

Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah
By: Muhammad

Pertanyaan:

Apakah Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah?

Assalamu’alaikum. Apakah dengan kita menggaji pembantu setiap bulannya selain kewajiaban kita memberi upah apakah termasuk sedekah juga? Mohon penjelasannya.

Dari Siti khodijah (Anggota milis fatwa kpmi)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakuh.

Iya, gaji pembantu termasuk sedekah, bahkan hal itu jg mendatangkan pahala sebagaimana hadis Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang muslim apabila ia menafkahi keluarganya dengan suatu nafkah, sedangkan ia berharap pahala darinya, maka nafkahnya itu mnjadi suatu sedekah baginya.” (H.r. Bukhari dan Muslim)


Dan di dalam riwayat Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang mana engkau mengharapkan wajah Allah dengannya, melainkan engkau diberi pahala karenanya, sampaipun (makanan) apa yang engkau berikan ke dalam mulut istrimu.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan dua hadits di atas, seorang muslim ketika melakukan kewajiban2 atau hal2 yg dianjurkan yg pada asalnya bukan termasuk ibadah, jika ia menyertainya dengan niat yang baik (ikhlas karena Allah) dan mengharapkan pahala dari-Nya, maka ia akan diberi pahala oleh Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Dari tanya jawab milis pm-fatwa@yahoogroups.com

Dijawab oleh ustadz Muhamad Wasitho, L.c.

Sumber: www.KonsultasiSyariah.com

Setelah Sering Sedekah

Setelah Sering Sedekah, Banyak Tawaran Pekerjaan Datang Padaku
Sumber:Vemale.com
Aku tidak menyangka bahwa sedekah bisa membawa keajaiban. Hal ini terjadi padaku dan aku membuktikan keajaiban sedekah memang ada.

sedekahlahHai Vemale, namaku Nia. Kisah ini benar-benar terjadi padaku dan ingin aku bagikan pada Sahabat Vemale yang lain agar tidak pelit bersedekah. Keajaiban sedekah itu ada dan bisa terjadi pada semua orang.
***

"Jangan lupa sedekah, nduk!"

Kira-kira begitulah pesan ayah setiap saat. Ayahku adalah orang tua yang cukup ketat dalam hal agama, sehingga dia selalu memberi saran agar aku memberikan sedekah, sekecil apapun itu. Oh iya, 'nduk' adalah panggilan kesayangan untuk anak perempuan, biasanya diucapkan oleh masyarakat Jawa.

Sejak kecil, aku memang terbiasa memberikan sedikit uang jajan pada orang lain. Jika ada baju yang masih layak pakai atau mainan yang masih bagus, biasanya aku berikan pada orang lain. Sedekah tidak harus berupa uang yang banyak, begitu kata ayah. Sedekah tidak akan membuat kita miskin, karena rezeki selalu datang pada siapapun yang mau membantu orang lain.

Tinggal jauh dari keluarga membuatku lupa bersedekah

Sayangnya, kebiasaan bersedekah ini mulai jarang kulakukan sejak kuliah. Jauh dari orang tua membuatku sedikit melupakan hal-hal seperti sedekah atau makan teratur. Empat tahun kuliah aku habiskan untuk belajar dan menambah teman. Jujur, aku lupa bersedekah dan hanya berpikir bahwa masa depan bisa diraih asal punya banyak ilmu dan teman.

Setelah lulus kuliah, aku memutuskan untuk tetap tinggal di kota besar, karena kesempatan kerja bisa lebih luas. Berbulan-bulan lulus kuliah dengan nilai IPK tinggi, nyatanya aku belum juga bekerja. Ada beberapa panggilan kerja, namun hanya sampai tes tertulis saja. Jujur, aku mulai mencemaskan bagaimana nasibku jika berbulan-bulan di kota orang tanpa penghasilan.

Ayah kembali mengingatkan pentingnya sedekah

Semua cara aku lakukan, mulai dari mengirim lamaran dengan berbagai teknik, menguasai wawancara dan sebagainya, namun belum juga kudengar kabar menggembirakan. Sebagai anak, saya tahu bahwa orang tua juga berharap agar aku cepat bekerja dan punya penghasilan sendiri.

Dalam kegelisahan hati yang tidak menentu, aku menelepon ayah dan menceritakan kondisiku. Seperti biasa, ayah selalu memintaku untuk bersabar, kadang menunggu akan memberi hasil terbaik pada akhirnya. Tanpa kusadari, ayah menanyakan satu hal yang selama ini aku lupakan.

"Jangan lupa berdoa dan sedekah, nduk. Ayah dan ibu selalu mendoakanmu dari sini," begitu kata ayah.


Satu kalimat yang membuat hatiku terasa mencair. Entah kenapa, pada saat itu aku menangis. Aku lupa bahwa sesuatu yang kecil itu sudah lama aku lupakan. Selama ini aku menutup mata bahwa ada perkampungan kumuh tidak jauh dari rumah kosku. Sepertinya aku terlalu memikirkan hidup hemat, sehingga lupa bersedekah.

Tidak perlu waktu lama, aku mengumpulkan uang yang tersisa dan membelikan beberapa kilogram beras. Saya tahu bahwa beras adalah kebutuhan pokok yang pasti diidam-idamkan masyarakat yang hanya makan nasi aking setiap hari.

Ada rasa bahagia yang sangat besar ketika saya membagikan beberapa bungkus beras itu pada masyarakat di sekitar tempat kos. Saat melihat senyum-senyum mengembang di bibir mereka, seperti ada kekuatan baru yang membuatku untuk optimis dan ikhlas. Inilah kenikmatan berbagi, saat apa yang kita miliki bisa membahagiakan orang lain.

Kata ayah, saat sedekah jangan hitung-hitungan

Aku pun tidak menghitung berapa nominal yang keluar, namun hati ini sangat lega. Lalu keajaiban itu terjadi. Hanya beberapa hari setelah aku bersedekah, aku menerima beberapa panggilan kerja. Satu persatu tes aku lakukan dengan hati yang lebih tenang. Sekitar dua minggu kemudian, empat perusahaan menerimaku bekerja.

Jujur, aku sampai bingung harus memilih yang mana. Tapi keputusan tetap harus mengambil salah satu dari empat perusahaan yang menawarkan masa depan untukku. Saat aku ceritakan hal ini pada teman-teman, ada yang bilang bisa jadi keajaiban sedekah, ada juga yang bilang mungkin kebetulan saja.

Namun saya percaya bahwa keajaiban sedekah itu ada, karena saya bukan manusia yang percaya kebetulan, karena semua hal pasti sudah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa.

Semoga kisah ini bisa memberi motivasi kepada teman-teman Vemale untuk bersedekah, tidak hanya pada golongan tertentu, tapi pada sesama manusia.

Saat kamu bersedekah,
akan ada pintu-pintu rejeki yang terbuka.
Maka jangan takut,
sedekah tidak akan membuatmu jatuh miskin.

Itulah pesan ayah yang tidak akan aku lupakan.

Nikmatnya Keajaiban Sedekah

http://rahasia-sedekah.blogspot.com/Kurasakan Nikmatnya Keajaiban Sedekah

Pengalaman ini ditulis oleh pembaca Vemale.com bernama Alma. Ia ingin berbagi kisah dan pelajaran dengan pembaca Vemale.com lainnya tentang keajaiban sedekah yang baru-baru ini dialami Alma. Yuk, kita simak kisahnya.

Dear, Vemale dan sahabat pembaca.

Nama saya Alma dan saya sering membaca kisah inspiratif dari berbagai media. Kisah-kisah itu sangat menyentuh batin dan membuat saya lebih termotivasi untuk hidup lebih baik. Namun ketika kita mengalaminya sendiri, rasanya seperti keajaiban, ya?Saya punya pengalaman saat saya masih sering bergulat dalam kehidupan masa remaja. Saya punya uang, tapi tidak tahu cara menggunakannya. Begitu uang itu habis, saya tidak sadar apa yang sudah saya lakukan.

Tiba-tiba sudah beli ini dan itu yang sebenarnya tidak begitu saya butuhkan. Atau sudah masuk perut dan bikin perut ini makin buncit. Sepertinya saya membeli kesenangan dengan uang yang saya miliki, namun hal itu jarang saya sadari dan tidak benar-benar membuat saya bahagia.

Saya hobi browsing di internet. Suatu hari saya menemukan bacaan-bacaan dari inspirator muda yang banyak muncul belakangan ini. Mereka mengisahkan banyak pengalaman nyata tentang sedekah. Rata-rata intinya, 'kalau sudah sedekah, nanti uangnya kembali lagi'.



Itulah anggapan polos saya saat itu. Saya melihat blog-blog mereka dan menemukan banyak foto orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kondisi saya sekarang. Mereka sakit, mereka ingin sekolah lebih dari kondisi yang mereka miliki saat ini. Saya tergerak ingin membantu meringankan masalah, ingin ikut membuat mereka tersenyum dan berbagai alasan yang tak terjelaskan dengan kata-kata.

Saya pun mulai menyisihkan uang, mungkin tidak banyak, namun semoga bisa membantu. Menurut saya, meski kecil, ada sebuah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri ketika saya bisa berbagi dengan uang yang saya miliki.Di sisi lain, saya tidak banyak merasa bahwa uang saya habis, meski pengeluaran saya bertambah. Ada keteraturan yang terjadi dalam keuangan saya, bahkan bukannya berkurang, malah semakin bertambah. Mungkin bukan dalam masalah jumlah, namun saya selalu bisa merasa cukup.

Keajaiban Itu Ada

Saya percaya dengan hukum sebab akibat. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Namun saya tak pernah berpikir bahwa keajaiban akan datang pada saya . Suatu hari adik saya terlibat masalah utang hingga puluhan juta. Ia kalang kabut mencari pinjaman. Sebagai kakak, saya pun turut membantu. Namun kami bukan orang kaya yang punya banyak uang dan investasi.

Selama satu minggu kami berpikir keras, mencoba mendapatkan tambahan uang. Sebagian besar gaji, saya berikan pada adik saya. Saudara yang lain pun ikut membantu.  Untunglah orang yang terlibat kasus hutang dengan adik saya mau memberikan toleransi waktu.

Sedikit demi sedikit kami kumpulkan uang untuk menyicilnya. Untung saya terbiasa menyisihkan uang untuk sedekah, jadi tak terasa berat. Untuk sementara, kami memang harus tirakat. Menahan keinginan ngafe, karaoke, belanja ini itu. Lebih baik susah sekarang, pikir saya, daripada kami harus jatuh kepada lubang yang lebih dalam. Sayapun menyarankan pada adik agar lebih hati-hati menggunakan uang.

Nominal uang itu sedikit-sedikit tidak etrasa saat digunakan, namun tanggung jawabnya sangat besar. "Iya, Kak. Maaf ya, Kak. Aku jadi nyusahin semua orang," kata dia dengan menyesal. "Sudah terjadi, Dek. Buat pembelajaran saja," kata saya. Rejeki itu selalu datang tepat pada waktunya. Tibalah hari di mana kami hampir tak punya uang lagi padahal sudah dekat jatuh tempo. Ternyata hari tersebut bertepatan dengan hari pembagian bonus kerja yang alhamdulillah bisa menutup kekurangan, bahkan lebih. Seperti ada tangan lain yang menyelesaikan permasalahan kami. Tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan, seperti harapan dan keajaiban. Itulah apa yang saya pikirkan saat itu.Saya tidak bilang bahwa uang ini datang dari langit sehingga saya katakan ini adalah keajaiban. Namun saya ingat kata bapak, "Rejeki itu sudah ada jalannya sendiri. Memang harus diusahakan dan sebisa mungkin yang barokah."

Jangan Takut Kekurangan



Dalam hidup, uang itu penting. Saya akui itu. Lebih penting lagi, untuk tahu bagaimana menggunakannya. Jangan blank saat berhadapan dengan apa yang kita miliki. Manfaatkan sebaik mungkin.

Dan saya percaya hidup ini harus dinikmati, tapi juga menjadi waktu mencari bekal untuk akhirat nanti. Dulu saya takut miskin. Tentu saja, karena uang saya tak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan saya yang tak terbatas. Namun berbagi dengan sedekah dan hati yang ikhlas tak akan membuat saya miskin. Itu adalah tabungan saya untuk kehidupan di akhirat kelak.

 'Sedekah itu menghapuskan kesalahan. Seperti air yang memadamkan api.' HR. At Tirmidzi 

Sumber:vemale.com

Waspadai Selebaran Sedekah

sedekah
Waspada! Selebaran “Sedekah Berantai” Mencatut Ustadz Yusuf Mansur Beredar Lagi

Modus penipuan dengan investasi sedekah yang mengatasnamakan Ust. Yusuf Manshur sudah sering terjadi. Waspadalah dengan Selebaran gelap “sedekah berantai” yang dengan kebohongannya membawa nama dai kondang Ustadz Yusuf . Selebaran bermodus “Program Investasi Sedekah” ini sudah banyak diedarkan di mana-mana, mulai dari pasar, lampu merah ke rumah-rumah atau di masjid-masjid

Saat itu awak media ini sedang mengendarai sepeda motor dari Depok, Jawa Barat, menuju arah Kalibata, Jakarta Selatan. Setelah menerima selebaran yang dibagikan seorang pria berbaju putih dan celana gelap itu, awalnya kami tidak menaruh curiga.

Lalu lintas saat itu padat merayap, tidak memungkinkan untuk berhenti apalagi membaca. Beberapa lama kemudian, setelah memutar balik menuju Jalan Rawajati Timur, awak media ini berhenti di pertigaan sebelum rel kereta untuk mencermati selebaran yang distaples itu. Rupanya selebaran ini berisi tawaran investasi bersedekah. Dari tampilannya saja, bundel ini sudah tidak meyakinkan. Isinya 9 lembar, semua fotocopy-an hitam-putih di atas kertas HVS.

“7 (Tujuh) Langkah Meraih Rizqi Melimpah dan Halal Insya Allah Sukses!” bunyi judul besar selebaran yang juga bermodus “Program Untuk Umat” itu.

Begitu mengetahui selebaran gelap ini bermodus penipuan, sebagaimana yang marak terjadi selama ini, hidayatullah.com langsung balik arah mencoba mengejar pengedarnya. Sayang, orang tersebut sudah hilang tak berbekas. Mungkin selebaran yang dia bawa sudah habis. Sebelumnya saat mengedar ke para pengendara khususnya sepeda motor, tampak dia membawa puluhan berkas serupa.

Modus Penipuan


Dugaan modus penipuan terlihat jelas dalam selebaran ini. Di bawah judul besarnya, terdapat foto Yusuf Manshur berpeci dan berkaca mata yang gambarnya agak kabur.

Di bawah foto itu, terdapat tulisan, “Oleh Ust. Yusuf Mansur. Lahir di Jakarta, 19 Desember 1976. Dari Keluarga Betawi Pasangan Abdurrahman Mimbar & Humiripah. Lulusan Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat. Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Qur’an Bulak Santri, Cipondoh Tangerang.”

Dilanjutkan dengan tulisan, “Keajaiban Sedekah/Memberi Dengan Ikhlas. PROGRAM INVESTASI SEDEKAH dijalankan dengan ikhlas dan jujur. Yakinlah Anda akan memperoleh hasil dari sedekah Anda tersebut…. GRATIS!!! Ambil Satu Bundel.”

Selain mencatut nama dan foto Yusuf Mansur, logo Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga dicatut pada halaman keduanya. Di atas logo MUI, terlihat jelas tulisan “MERAIH REJEKI LEWAT INFAQ & SEDEKAH DENGAN IKHLAS DAN JUJUR”.

Di bawah logo, dilampirkan tiga dalil al-Qur’an dan Hadits tentang keutamaan sedekah. Juga terdapat seruan bersedekah dan khasiatnya.

Dari halaman 2-4, berisi testimoni dari orang-orang yang diklaim sukses dengan “sedekah berantai” ini. Dilengkapi kisah nyata yang diklaim mereka alami. Di header dan footer halaman, terdapat tulisan 8milyar.blogspot.com.

Pada halaman 5-6, dimuat 7 langkah yang diperlukan oleh orang yang berminat mengikuti program tersebut. Langkah-langkah itu antara lain, peserta harus memiliki tabungan dan kartu ATM bank apa saja.

Langkah selanjutnya, tulis selebaran itu, peserta diminta mentransfer uang ke-4 (empat) nomor rekening yang tertulis di halaman KOLOM INVESTOR BARU, masing-masing Rp 20.000. Langkah selanjutnya, selebaran itu harus di-fotocopy dan disebarkan di tempat tempat umum.

“Perhatikan, Anda sudah disediakan satu halaman kosong (di lembaran terakhir), KOLOM BUKTI TRANSFER dan KOLOM INVESTOR BARU,” bunyi langkah selanjutnya.

Dalam selebaran ini, peserta diiming-imingi uang yang bernilai miliaran rupiah. Tak tanggung-tanggung, selama 4 pekan peserta dijanjikan mendapat uang tunai Rp 7.812.500.000.

Masyarakat harus waspada jika melihat selebaran seperti ini, yang jelas ini adalah sebuah penipuan. Ini merupakan upaya oknum tertentu yang ingin mencari keuntungan dengan cara penipuan, atau bisa jadi ini ulah para musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan nama baik Ustadz Yusuf Manshur.

Sumber:http://hidayatullah.com