Monday, September 23, 2013

Teladan Rasulullah saw. Dalam Bersedekah


Teladan Rasulullah saw. Dalam Bersedekah

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah saw. hadir di masjid dan mengimami shalat. Para sahabat melihat pergerakan beliau antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar dan lambat sekali. Mereka pun mendengar bunyi menggerutup seolah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah saw. bergeser antara satu sama lain. Setelah selesai shalat, Umar bin Khattab bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah Anda menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah Anda, ya Rasulullah?”

“Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat.”

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh Anda? Kami yakin Anda sedang sakit…!” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya, Rasulullah saw. mengangkat jubahnya. Para sahabat dibuat terkejut. Perut beliau yang kempis dibaluti sehelai kain berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali manusia mulia ini menggerakkan badannya.

“Ya Rasulullah, apakah jika Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat Anda?”

Beliau menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi aku. Namun, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih kelaparan di akhirat.”

Pada lain kesempatan, Umar bin Khattab bercerita, “Aku pernah menemui Rasulullah saw. yang sedang terlentang di atas tikar. Setelah aku duduk, kulihat beliau hanya mempunyai satu selimut tanpa yang lain. Tikar itu meninggalkan bekas menggurat di punggungnya. Aku pun melihat ada gandum kira-kira segenggam hingga satu sha’ dan daun salam untuk menyamak kulit di pojok ruangan, juga ada selembar kulit yang sudah disamak. Aku sangat sedih hingga menitikkan air mata.”

“Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnu Khattab?” tanya Nabi saw. ingin tahu.

“Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah meninggalkan bekas di punggungmu. Lemarimu itu tidak ada yang dapat aku lihat selain yang ada di depan mataku, sedangkan Kaisar Parsi dan Romawi berada di antara buah-buahan segar dan sungai jernih yang mengalir. Padahal, engkau adalah nabi Allah dan hamba-Nya yang paling mulia.”

Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Ibnu Khattab, apakah engkau belum rela kita yang memiliki akhirat sedang mereka hanya memiliki dunia?”

Itulah sekelumit kisah kebersahajaan Rasulullah saw. Beliau sangat tawadhu dan sederhana dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggalnya. Beliau berpakaian dan menempati rumah sama seperti orang-orang kecil di sekitarnya: tidak ada kemewahan, glamor, dan simbol-simbol duniawi yang menandakan tingginya kedudukan beliau di antara umatnya. Padahal, sejarah mencatat beliau sebagai orang yang memiliki penghasilan besar untuk ukuran zamannya. Kalau mau, apa pun bisa beliau beli. Selain pernah menjadi seorang saudagar kaya, Rasulullah saw. pun mendapat hak atas ganimah atau harta rampasan perang. Allah Swt. telah menetapkan jatah yang berhak beliau miliki sebagaimana firman berikut.

”Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu milik Allah dan rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman’.” (QS Al Anfal, 8: 1)

Kalau kita buat kalkulasi dari semua peperangan yang beliau lakukan dan besarnya ganimah yang didapat, harta yang menjadi hak Rasulullah saw. sangatlah besar. Sebagai contoh, seperlima harta rampasan perang Hunain saja (yang menjadi hak beliau) mencapai 8000 ekor domba, 4800 ekor unta, dan 30 gram perak. Ke mana harta sebanyak itu? Sedikit saja harta yang sampai ke rumah beliau. Hampir seluruhnya beliau bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang lebih membutuhkan. Rasulullah saw. ketika itu bersabda sebagai berikut.

“Sesungguhnya, harta itu hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan kedermawanan hati, maka akan diberkahi; barang siapa mengambilnya dengan keserakahan, maka tidak akan diberkahi. (Jika tidak diberkahi, maka dia) seperti orang yang makan, tapi tidak pernah kenyang. Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (diberi).” (HR Muslim)




Tinta sejarah telah menuliskan bahwa Rasulullah saw. adalah seorang dermawan sejati. Saat meninggal, beliau tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk keluarganya, selain beberapa potong pakaian yang tidak baru lagi dan sebuah baju besi yang dijaminkan kepada seorang Yahudi. Rasulullah saw. seringkali kelaparan, sebagaimana dikisahkan pada bagian awal tulisan ini. Andaikan beliau makan, jumlah makanan yang beliau konsumsi sangat sedikit dan sederhana pula. Kelebihannya beliau sedekahkan kepada ahlu shuffah dan orang-orang miskin. Beliau tidak berpakaian kecuali dari bahan kasar dan murah harganya. Beliau tidak tidur kecuali dialasi pelepah daun kurma yang dimodifikasi menjadi kasur. Beliau sangat takut apabila di rumahnya tersisa sedikit saja harta yang belum dibagikan.

Abu Dzar pernah berkisah bahwa suatu hari dia berjalan bersama Rasulullah saw. di sebuah tanah lapang di Madinah hingga di hadapan keduanya terlihat Jabal Uhud. Setelah menyapa Abu Dzar, Rasulullah bersabada sebagai berikut.

“Tidak akan pernah membuat senang memiliki emas seperti Jabal Uhud ini, jika sampai melewati tiga hari dan aku masih memiliki satu dinar kecuali yang aku gunakan untuk melunasi utang. Jika aku memilikinya, pasti akan aku bagi-bagikan semuanya tanpa sisa dan aku katakan kepada hamba-hamba Allah begini, begini, begini (beliau mengisyaratkan arah kanan, kiri, dan belakangnya)’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak berlebihan kiranya jika Abdullah bin Abbas, putra pamannya, mengatakan bahwa tidak ada orang paling dermawan yang pernah dia temui selain Rasulullah saw. Pada bulan Ramadhan lebih dahsyat lagi. Kedermawanan beliau bagaikan angin berembus karena sangat mudahnya beliau bersedekah.

“Rasulullah saw. adalah manusia paling dermawan. Puncak kedermawanannya terjadi pada bulan Ramadhan ketika Jibril mendatangi beliau… Sungguh, Rasulullah saw. lebih dermawan dan pemurah dengan kebaikan seperti angin yang berembus.” (HR Bukhari Muslim)

Tidak hanya harta benda, semua hal yang layak diberikan dan beliau miliki, pasti diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan. Memberi dan terus memberi tanpa mengharap kembali, itulah Rasulullah saw., nabi kita semua.

Rabi’ binti Ma’udz bin ‘Urfa pernah berkisah bahwa suatu ketika ayahnya mengutus dia membawakan satu sha’ kurma basah dan mentimun halus untuk dihadiahkan kepada Rasulullah saw. Beliau memang sangat menyukai mentimun. Kebetulan, saat itu ada utusan yang mengirim hadiah berupa perhiasan emas yang banyak dari Bahrain. Ketika melihat Rabi’, Rasulullah saw. segera mengambil emas-emas itu hingga telapak tangan beliau dipenuhi emas. Apa yang terjadi? Di luar dugaan Rabi’ binti Mu’adz, beliau memberikan emas-emas tersebut kepadanya.

“Maka beliau memberikan perhiasan atau emas sepenuh telapak tanganku, lalu bersabda, ‘Berhiaslah engkau dengan ini…!’” (HR Ath Thabrani dan Ahmad)


Atas akhlak Rasulullah saw., William Moir, seorang pujangga asal Perancis, mengungkapkan kekagumannya pada pribadi Rasulullah saw. “Sederhana dan mudah adalah gambaran hidupnya. Perasa dan adabnya adalah sifat yang paling menonjol dalam pergaulan beliau dengan pengikutnya yang paling rendah sekalipun. Tawadhu, sabar, penyayang, dan mementingkan orang lain lagi dermawan adalah sifat yang selalu menyertai pribadinya dan menarik simpati orang-orang di sekitarnya.

“Wahai anak Adam,

sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan hartamu,

itu sangat baik bagimu. Jika tidak, itu sangat jelek bagimu.

Engkau tidak (akan) dicela karena kesederhanaanmu.

Dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu.

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”



— HR muslim —

Tentang Keutamaan Sedekah


Tentang Keutamaan Sedekah

Suatu saat ada seseorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), “Siramilah kebun si fulan!” Maka, awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan), lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka, ia menelusuri (mengikuti) air itu.

Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?” Dia menjawab, “Fulan”. Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, “Mengapa anda menenyakan namaku?” Dia menjawab, “Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan “Siramilah kebun si fulan!” Yaitu nama anda.

Maka, apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?” Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini, maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas adalah salah satu contoh kisah nyata dari salah satu keutamaan bersedekah, yaitu Allah SWT tidak akan mengurangi rezeki yang kita sedekahkan, dan bahkan Allah SWT akan mengganti dan melipat gandakannya.

Sedekah tidak mengurangi Rezeki

Allah SWT berfirman dalam surat Saba bahwa Allah SWT akan mengganti sedekah yang kita keluarkan:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba 34:39)

Secara logika, mungkin kita akan berfikir bahwa harta yang kita keluarkan untuk sedekah berarti pengurangan harta yang ada di tangan kita. Tetapi, apa kenyataannya Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:

“Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan.” (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa’ad al-Anmari r.a.)

Sedekah membuka pintu rezeki

Rasulullah SAW pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)




Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wataala berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah r.a., Nabi SAW pernah bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

Ada satu kisah pada zaman Nabi SAW yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi SAW, orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi SAW mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali “Bukakanlah pintu rezeki” atau “Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang.”

Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi SAW adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ketidakpelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut.
Doa tersebut adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang.”

Sedekah melipat gandakan rezeki

Bukan saja sedekah membuka pintu rezeki seseorang, tetapi bahkan bersedekah juga melipat-gandakan rezeki yang ada pada kita.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka, sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung, yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

Janji Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan melipat-gandakan sedekah kita menjadi 700x lipat:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah 2:261)


Sedekah Menjaga Warisan

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (H.R. Ahmad)

Di dalam Surat Al-Kahfi ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa AS dengan Khidir. Di dalam kisah tersebut Khidir memperbaiki diding rumah dari dua anak yatim, dan menjelaskan bahwa di bawah dinding tersebut ada harta warisan dari orang tua mereka yang soleh. Khidir memperbaiki dinding tersebut agar harta warisan tersebut tetap pada tempatnya sampai sang anak menjadi dewasa. Demikianlah salah satu contoh bagaimana Allah SWT melindungi warisan seseorang.

Sedekah adalah Naungan kita di hari kiamat

Rasulullah SAW bersabda “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW pernah bersabda tentang tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah SWT pada hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Salah satu orang yang diberi naungan pada hari itu adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanan, tetapi tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sedekah Menjauhkan diri kita dari api neraka

Rasulullah SAW bersabda: “Jauhkan dirimu dari api neraka, walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (Mutafaqalaih)
Allah SWT juga berfirman bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang akan masuk surga adalah orang yang bersedekah di waktu lapang maupun sempit.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran 3:133-134).

Sedekah Mengurangi kesakitan kita di sakaratul maut
Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut).”

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Sedekah Mengobati orang sakit

Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

Sedekah untuk janda dan orang miskin diibaratkan seperti orang yang berpuasa terus menerus.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (H.R. Bukhari)




Quality adalah lebih baik dari Quantity

Bersedekah satu dolar bisa jadi lebih baik dari pada bersedekah seratus ribu dollar. Jika seseorang hanya memiliki dua dollar kemudian disedekahkannya satu dollar, maka sedekah tersebut adalah lebih baik dari pada sedekah dari seseorang Billioner, tetapi hanya mensedekahkan seratus ribu dollar.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi SAW menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (H.R. An-Nasaa’i)

Di bulan Ramadhan yang mulia ini marilah kita perbanyak sedekah kita, berapapun jumlahnya. Jangan sampai kita menunggu kaya raya atau hidup berlebih untuk bersedekah karena hal tersebut adalah bisikan syetan belaka. Terlebih lagi, jangan sampai kita menunggu sampai ruh kita berada di tenggorakan, karena pada saat itu harta kita sudah dipastikan bukan milik kita lagi tetapi sudah menjadi milik ahli waris.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat, tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga ruhmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (H.R. Bukhari)

Sedekah Memang Ajaib


Sedekah Memang Ajaib
By:Halida Ernita

Sewaktu bulan Ramadhan aku mengikuti sebuah pengajian yang membahas sedekah. Sedekah itu katanya ajaib, uang kita tidak akan pernah berkurang dengan sedekah, justru akan bertambah. Allah akan mengembalikan uang yang kita sedekahkan. Jika kita bersedekah tapi tidak ikhlas Allah tetap akan mengganti tetapi dalam jumlah yang sama dengan yang kita sedekahkan, tetapi jika kita bersedekah dengan ikhlas maka Allah mengganti dalam jumlah yang berlipat ganda. Jika kita mengalami hal yang tidak baik, maka kita harus mengevaluasi diri kita apakah kita sudah bersedekah. Misalkan ketika kita dicopet di bis, kenapa yang dicopet kita padahal banyak orang lain dalam bis, salah satu penyebabnya adalah karena disitu masih ada rizki orang lain yang belum kita sedekahkan.

Malam setelah mengikuti pengajian itu, aku berpikir sepertinya aku sangat kurang bersedekah, hari ini aku belum bersedekah dan dimana aku bisa bersedekah sekarang. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku, ketika aku membuka pintu ternyata teman sekosanku yang datang, dia  bilang “Mbak, aku sama teman-teman kampus mau ngadain sahur bersama anak jalanan, jadi mbak kita jualan mawar untuk ngumpulin dana. Mbak mau nyumbang? “  Subhanallah, Allah benar-benar mendengar kata hatiku, dan membuka jalan untukku beramal. Esoknya balasan itu juga benar-benar ada, temanku memberikan oleh-oleh sebuah barang yang memang sedang aku butuhkan. Subhanallah lagi, rahasia Allah tidak pernah kita duga.

Pengalaman tidak menyenangkan karena kurang bersedekah dialami oleh abangku. Suatu malam ketika shalat tarawih di mesjid Istiqlal, ketika mau bersedekah abang melihat ternyata dalam dompetnya tidak ada uang kecil, dan menanyakan padaku apakah ada uang kecil. Aku bilang “udah bang yang itu aja, masak sedekah pake uang kecil”. Akhirnya dia menyedehkan uang besarnya itu, setelah itu dia bilang padaku, “gapapa uang kecil kan yang penting ikhlas, daripada besar terus gak ikhlas”. Saat itu aku hanya senyum saja. Besoknya Allah lagi-lagi menunjukkan pada ku bagaimana ajaibnya sedekah. Sore itu aku dan abang buka bersama dengan teman-temanku di sebuah mall di kawasan Senen, ketika shalat magrib di mushala abang kehilangan sendalnya yang memang masih lumayan baru dan bagus. Aku senyum dan bilang “Bang itu karena sedekah gak ikhlas jadinya gitu, coba kenapa sendal abang yang diambil bukan punya teman-teman yang lain?”. Abang mengiyakan pernyataan ku dan tidak bisa mengelak lagi kemudian tersenyum. Dan ternyata cobaan tidak sampai disitu saja, keluar dari mall ban motor yang kita naiki bocor, padahal sebelum berangkat tadi sudah kempes dan sudah diisi angin. Setelah ban ditambal, perjalanan dilanjutkan lagi. Sampai di depan Senayan ban motor bocor lagi karena ban luarnya memang sudah tipis dan sehingga ketika melewati lubang dijalan ban dalamnya bocor lagi. Ini benar membuat kita bingung karena waktu itu sudah pukul 9 malam, dan tidak ada tukang tambal ban yang buka lagi. Akhirnya dengan putus asa kita berusaha jalan pelan-pelan, siapa tau ketemu. Alhamdulillah di depan halte bis senayan ada bapak-bapak tukang tambal ban, dan akhirnya ban dalamnya diganti karena tidak bisa ditambal lagi.  Alhamdulillah ada pertolongan Allah setelah diuji.




Benar-benar ajaib kan sedekah itu. Cerita ini tidak bermaksud ria, hanya ingin berbagi sedikit pengalaman. Mudah-mudahan memotivasi yang membaca untuk bersedekah.

Aneka Bentuk Sedekah


Aneka Bentuk Sedekah

Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-26

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِى دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Untuk setiap tulang/sendi manusia harus ada sedekahnya setiap hari yang di dalamnya matahari terbit. Engkau berlaku adil di antara dua orang adalah sedekah. Engkau membantu seseorang di kendaraannya dengan membantu dia naik ke atasnya atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Kata-kata yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau ayunkan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Engkau menyingkirkan duri dari jalanan adalah sedekah (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Hibban).


Susunan tulang/sendi dan keteraturannya termasuk nikmat Allah SWT yang paling besar kepada hamba-Nya. Untuk setiap tulang/sendi itu perlu ada sedekah yang disedekahkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat tersebut. Syukur atas setiap kenikmatan akan ditanyakan oleh Allah pada Hari Kiamat kelak.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (QS at-Takatsur [102]: 8)


Keharusan bersyukur dengan bersedekah untuk tiap tulang/sendi itu—dalam riwayat jumlah sendi/tulang manusia ada 360 buah—bersifat harian, yakni setiap hari. Rasul saw. menegaskan: “setiap hari yang di dalamnya matahari terbit”. Lalu bagaimana itu bisa dilakukan?

Rasul saw. memberikan beberapa contohnya dalam hadis ini. Abu Musa al-Asy’ari juga menceritakan, Rasul saw bersabda:

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ، قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ، قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ، قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ، أَوْ قَالَ: بِالْمَعْرُوفِ، قَالُوْا: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: فَيُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ

“Setiap Muslim harus bersedekah.” Mereka (para sahabat) berkata, “Jika ia tidak menemukan apapun (untuk bersedekah)?” Nabi saw. bersabda, “Hendaknya ia bekerja dengan tangannya sehingga memberi manfaat kepada dirinya dan bisa bersedekah.” Mereka berkata, “Jika ia tidak bisa atau tidak melakukannya?” Nabi bersabda, “Hendaknya ia membantu orang yang membutuhkan yang meminta tolong.” Mereka berkata, “Jika tidak ia lakukan?” Nabi bersabda, “Hendaknya ia memerintahkan kebaikan,” atau Nabi bersabda, “kemakrufan”. Mereka berkata, “Jika tidak ia lakukan?” Nabi bersabda, “Hendaknya ia menahan diri dari keburukan karena hal demikian ada pahala sedekah bagi dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).





Hadis ini menunjukkan, jika seseorang itu tidak bisa bersedekah dengan harta atau perbuatan apapun, cukuplah bagi dirinya meninggalkan keburukan. Para ulama menyebut ini sebagai syukur dalam derajat wajib. Seseorang menjauhi keburukan itu, seperti yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Rajab, adalah jika dia melakukan kewajiban dan menjauhi keharaman. Sebab, keburukan terbesar adalah meninggalkan kewajiban. Dari sini sebagian ulama mengatakan, syukur itu adalah meninggalkan kemaksiatan. Sebagian yang lain mengatakan syukur itu tidak menggunakan sedikitpun dari nikmat itu untuk bermaksiat. Abu Hazim az-Zahid menyebutkan, syukur seluruh badan adalah dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan menggunakan badan dalam ketaatan.

Syukur derajat berikutnya adalah syukur yang mustahab. Setelah melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman, hamba itu melaksanakan perbuatan-perbuatan sunnah, baik yang berupa perbuatan, ucapan, bersifat finansial dan sebagainya. Itulah yang di antaranya disebutkan oleh Rasul di dalam hadis ke-26 ini, hadis ke-25 dan hadis lainnya.

Rasul saw. memberikan contoh—juga dalam hadis ke-25 sebelumnya—bermacam-macam kebaikan, yakni ketaatan yang bisa mendatangkan pahala seperti sedekah. Dari situ terlihat bahwa pintu-pintu kebaikan atau sedekah itu sangat luas dan beragam. Karena itu tidak alasan bagi siapapun untuk tidak bisa bersedekah, yaitu melakukan kebaikan dan ketaatan serta mendapatkan pahala seperti sedekah.

Di antara contoh yang disebutkan oleh Nabi saw.: Pertama, berlaku adil di antara manusia. Termasuk di dalamnya memutuskan perkara dan melakukan ishlah dengan adil di antara dua orang yang berselisih.

Kedua, membantu orang lain menaiki kendaraan atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan. Ini mewakili bentuk kebaikan yang memberi manfaat kepada orang lain, membantunya dalam hal yang dibutuhkan, meringankan kesulitan, dsb. Termasuk di antaranya: menunjuki jalan, membantu memperbaiki sesuatu, memberi utang, membebaskan utang sebagian atau seluruhnya, memberi tangguh, menuntun orang buta atau orang tua, dsb.

Ketiga, dalam bentuk kata-kata yang baik. Termasuk di antaranya, mengucapkan salam, mendoakan, menasihati, amar makruf nahi mungkar, senyum, menampakkan wajah berseri, dan sebagainya.

Keempat, bentuk sedekah yang manfaatnya terbatas pada diri pelaku seperti, berjalan untuk shalat berjamaah, duduk di masjid menunggu shalat, membaca tahlil, takbir, tahmid, tasbih, istighfar, shalawat, membaca al-Quran, mendengarkan kajian, dan sebagainya. Begitu juga dua rakaat shalat dhuha yang dalam satu riwayat dikatakan oleh Nabi saw. bisa memenuhi sedekah untuk semua tulang/sendi pada hari itu.

Kelima, menjauhkan bahaya dari orang lain, seperti menghilangkan duri dari jalanan atau menjauhkan orang dari bahaya lisan dan tangan kita atau orang lain.

Dakwah dan perjuangan agar syariah diterapkan untuk mengatur kehidupan dan semua interaksi di masyarakat memiliki posisi sangat tinggi dalam hal ini. Sebab, penerapannya syariah menjadi kunci pelaksanaan kewajiban lainnya, menghalangi keharaman dan kemaksiatan, mewujudkan manfaat dan hak bagi tiap orang, serta menjauhkan bahaya dan kemadaratan dari individu dan umat. Karena itu, keterlibatan di dalam dakwah dan perjuangan penerapan syariah adalah termasuk bentuk syukur yang paling tinggi.


WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]

Tentang Sedekah


Tentang Sedekah

Ummul Mukminin, Aisyah ra., suatu saat pernah mendapatkan hadiah berupa dua kantong harta berisi masing-masing 100 ribu dirham (total berarti 200 ribu dirham). Sebagaimana diketahui, satu dirham syar’i hari ini setara kira-kira Rp 70 ribu rupiah. Artinya, Aisyah ra. saat itu mendapatkan uang kira-kira Rp 14 miliar (200 ribu x Rp 70 ribu). Mendapatkan uang sebanyak itu, Aisyah ra. tidak lantas bergembira dan bersukacita, lalu menyimpannya atau menghabiskannya untuk kepentingan dan kesenangan dirinya. Sesaat setelah menerima hadiah uang itu, ia malah segera membagi-bagikan uang sebanyak itu kepada fakir miskin. Hanya dalam tempo beberapa jam saja, sejak pagi hingga sore, uang sebanyak Rp 14 miliar rupiah itu ludes disedekahkan semuanya. Tak ada satu dirham pun tersisa bagi dirinya. Padahal hari itu Aisyah ra. sedang berpuasa dan ia tidak tahu kalau hari itu ia tidak memiliki makanan untuk berbuka kecuali amat sedikit. Saat uang itu habis dibagikan menjelang magrib, Aisyah ra. berkata kepada pembantunya, “Coba engkau bawakan makanan untuk saya berbuka.”

Tak lama, pembantunya segera membawakan sepotong roti kering dan sedikit minyak zaitun.

“Adakah makanan yang lebih baik daripada ini?” tanya Aisyah ra.

“Andai tadi engkau menyisakan satu dirham saja, tentu kita dapat membeli sekerat daging,” jawab pembantunya.

“Mengapa engkau baru mengatakan itu sekarang? Andai saja tadi engkau meminta, tentu saya akan memberi kamu satu dirham,” kata Aisyah ra. (Al-Kandahlawi, Fadha-il A’mal, hlm. 679).

Demikianlah. Sepeninggal Baginda Rasulullah saw., dalam posisinya sebagai Ummul Mukminin, Aisyah ra. sering mendapatkan hadiah seperti ini, di antaranya dari Muawiyyah ra., Abdullah bin Umar ra., Zubair ra. dan para Sahabat lainnya. Apalagi saat itu kaum Muslim sering mendapatkan harta yang banyak (ghanimah) karena seringnya mereka meraih kemenangan dalam sejumlah peperangan. Walaupun banyak kaum Muslim saat itu yang memiliki banyak harta, dan sebagiannya banyak dihadiahkan kepada Ummul Mukminin Aisyah ra., Aisyah ra. tetap hidup sederhana.

Dalam kisah lain, sebagaimana dituturkan oleh Urwah ra., Aisyah ra. pernah menyedekahkan harta sebanyak 70 ribu dirham (kira-kira setara Rp 4,9 miliar), sementara saat itu beliau mengenakan pakaian yang amat sederhana bahkan bertambal.




Pada saat lain, Aisyah ra. sedang berpuasa. Selain sepotong roti, pada hari itu tak ada makanan di rumahnya untuk berbuka. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki miskin. Ia lalu meminta sedikit makanan kepada Aisyah ra. Aisyah ra. segera memerintahkan pembantunya untuk memberikan sepotong roti itu kepada lelaki miskin tersebut. Pembantunya berkata, “Jika kita memberikan roti ini kepada orang itu, berarti kita tidak memiliki makanan untuk berbuka.”

“Biar saja,” jawab Aisyah ra. “Berikan saja roti itu kepada dia,” tegasnya lagi (Al-Kandahlawi, Fadha-il A’mal, hlm. 679).

*****

Pembaca yang budiman, apa yang terlintas di benak kita saat kita membaca kisah nyata di atas? Perasaan apa yang ada dalam dada kita saat membaca kisah Aisyah ra.—juga kisah-kisah keteladanan para Sahabat ataupun Shahabiyah yang serupa, yang sesungguhnya bertaburan dalam catatan sirah dan sejarah mereka? Saya akan mencoba menduga-duganya.

Pertama: Yang ada pasti sikap takjub. Namun, sebatas itu. Setelah itu, kisah semacam ini akan berlalu begitu saja dari benak dan hati kita tanpa ada pengaruh sedikit pun ke dalam sikap dan tindakan kita. Infak kita tetap biasa saja. Sedekah kita tetap seperti semula; hanya sisa-sisa dari pengeluaran untuk memenuhi keperluan kita sehari-hari.

Kedua: Takjub, tetapi kemudian juga segera berapologi dan membela diri. “Ya, memang keimanan kita jauh sekali dengan para Sahabat Nabi saw. Rasa-rasanya susah kita bisa mencontoh keteladanan mereka.” Barangkali begitu komentar kita. Setelah itu, infak dan sedekah kita pun tak pernah meningkat; biasa-bisa saja seperti semula meski mungkin penghasilan kita terus bertambah. Sebabnya, kita sendiri sudah menegaskan: sulit mencontoh para Sahabat Nabi saw.

Ketiga: Kita takjub, lalu merenung. Namun, kita pun kemudian menimbang-nimbang saat berinfak. Pada akhirnya, mungkin infak dan sedekah kita meningkat sedikit dari sebelumnya karena kita masih bisa beralasan, “Ya, kalau disedekahkah semuanya, gimana untuk memenuhi keperluan kita dan keluarga kita?” Barangkali demikian komentar kita. Kebanyakan kita masih belum yakin dengan rezeki sebagai ketetapan dari Allah SWT. Kebanyakan kita pun masih belum yakin dengan balasan yang berlipat ganda—di dunia dan akhirat—dari amalan sedekah dan infak di jalan Allah SWT. Pada akhirnya, kisah-kisah tentang dahsyatnya infak dan sedekah para Sahabat Nabi saw. tetap sesuatu yang kecil pengaruhnya untuk menguatkan keyakinan sekaligus meledakkan semangat kita untuk melakukan hal yang sama.

Keempat: Takjub dan terharu sekaligus. Akal dan kesadaran kita segera tergugah. Perasaan kita segera bangkit untuk juga melakukan apa yang telah banyak dilakukan dan dicontohkan oleh para Sahabat Nabi saw. dalam hal infak dan sedekah mereka. Tak berlama-lama, kita akan segera mengeluarkan sebagian besar—bukan sebagian kecil—harta dan penghasilan kita untuk infak di jalan Allah SWT dan sedekah bagi fakir miskin. Tak ada lagi waktu untuk menimbang-nimbang. Tak ada masanya lagi untuk berpikir ulang. Dasarnya hanyalah satu keyakinan: Rezeki tak akan berkurang karena sedekah. Sebaliknya, sedekah pasti membawa berkah, selain akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT. Pada akhirnya, kita tak ragu lagi untuk menolong agama Allah SWT ini, juga untuk berbagi dengan kaum dhuafa; tentu tanpa rasa takut jatuh miskin. Bahkan hidup sederhana kini menjadi obsesi kita, sebagaimana yang  telah secara gamblang dicontohkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra. di atas, juga para Sahabat Nabi saw. yang lain, termasuk tentu saja sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. Menjadi kaya tak lagi menjadi orientasi utama. Menumpuk-numpuk harta tak lagi menjadi obsesi  di dalam dada.


Dari keempat tipikal di atas, kita termasuk yang mana?

Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib. [Arief B. Iskandar]

Matematika Sedekah


Matematika Sedekah

Lepas dari motif apapun orang bersedekah—entah benar-benar ikhlas tanpa pernah berpikir akan balasan-balasan yang bersifat ’duniawi’, atau karena memang berharap ada balasan ’real dan langsung’ sesuai dengan logika ’matematika sedekah’ tadi, atau karena memang ada hajat tertentu (seperti ingin segera dapat jodoh, ingin segera punya momongan, ingin segera naik pangkat, ingin segera sembuh dari suatu penyakit, ingin sukses memenangkan order/proyek, ingin maju dalam bisnis, dll)—tentu benar bahwa Allah SWT akan membalas amal sedekah kita berlipat ganda (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 261). Demikian pula yang dijelaskan oleh Baginda Nabi saw. dalam banyak hadisnya.

Lalu salahkah jika kita bersedekah dengan berharap balasan berlipat ganda sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan? Tentu tidak. Namun, jika bersedekah sebatas itu, biasanya: Pertama, sedekah yang dikeluarkan hanyalah sebatas untuk mendapatkan ’balasan’ yang kita inginkan. Kedua, tak selalu Allah membalas sedekah kita dengan balasan yang bersifat duniawi sesuai dengan logika ’matematika sedekah’ di atas, karena boleh jadi balasannya dalam bentuk lain yang tidak kita ketahui (Lihat: Al-Haitsami Majma’ az-Zawa’id, V/282). Ketiga, pada saat Allah SWT memberikan balasan tak sesuai dengan logika ’matematika sedekah’ di atas, sangat mungkin kita akan kecewa.

Jadi, mesti bagaimana? Marilah kita simak keteladanan Rasulullah saw. dan para Sahabatnya dalam bersedekah dan berinfak fi sabilillah di bawah ini.

*****

Suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw. mendapat hadiah harta dari kaum Fadak yang dibawa oleh empat ekor unta. Sebagian harta itu kemudian beliau gunakan untuk bayar utang yang sudah jatuh tempo. Bilal segera beliau tugasi untuk membayarkan utang tersebut, sementara beliau menunggu di masjid.

Setelah seluruh utang itu dibayar, Bilal segera kembali menemui beliau. Baginda Nabi saw. kemudian bertanya, “Masih adakah harta yang tersisa?”

“Ya, masih ada sedikit,” jawab Bilal.

Beliau lalu memerintahkan, “Bagikanlah harta itu sampai habis hingga aku bisa merasa tenang. Aku tidak akan pulang ke rumah sebelum harta itu dibagikan semuanya.”

Bilal pun pergi untuk membagi-bagikan harta yang tersisa kepada fakir miskin. Selepas shalat isya, Baginda Nabi saw. bertanya lagi, “Masih adakah harta yang tersisa?”

“Masih, karena belum ada lagi orang yang memerlukannya,” kata Bilal.




Baginda Nabi saw. kembali tidur di masjid. Keesokan harinya, beliau bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Lalu dijawab oleh Bilal, “Tidak ada, ya Rasulullah. Allah telah memberkati Anda dengan ketenteraman jiwa. Semua harta itu telah habis dibagikan.” (Al-Kandahlawi, Fadhâ’il al-A‘mâl, hlm. 576).

Bagaimana dengan Abu Bakar ra.? Semua tahu, Abu Bakar ra. adalah salah seorang Sahabat yang paling banyak berkorban harta untuk kepentingan dakwah dan jihad fi sabilillah. Sejak berhijrah bersama Rasulullah saw., sebagaimana diceritakan oleh Ibn Ishak, dari penuturan Asma ra., Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak 6 ribu dirham, tentu untuk keperluan perjuangan Islam.

Tengok pula Utsman bin Affan ra. yang juga terkenal karena pengorbanan hartanya. Dalam Perang Tabuk beliau pernah menyumbangkan 100 ekor unta dengan perlengkapannya (HR Ahmad). Bahkan menurut al-Baihaqi, itu ia lakukan sampai tiga kali sehingga total 300 unta beserta perlengkapannya (Lihat juga: Abu Nu’aim, Al-Hilyah, I/59).

Dalam kesempatan lain, Utsman bin Affan pernah menyumbang 10 ribu dinar untuk membantu Pasukan al-Usrah. Jumlah itu setara dengan Rp 14,2 miliar ( 1 dinar = 1.420.000,-, Antam, 20/07/10). Di luar itu, Utsman ra. pernah menyedekahkan lagi 1000 dinar untuk biaya Perang ‘al-Usrah (HR al-Hakim) dan 700 uqyah emas (HR Abu Ya’la), juga 950 ekor unta dan 50 ekor kuda untuk Perang Tabuk (HR Ibn Asakir).

Tak kalah dengan Utsman ra., Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar (kira-kira Rp 56,8 miliar). Seluruh hasil penjualan tanah itu ia bagi-bagikan kepada fakir-miskin, termasuk kepada para istri Nabi saw. (HR al-Hakim). Beliau pun pernah membebaskan sebanyak 30 ribu budak wanita (HR Abu Nu’aim).

Pernah suatu saat Abdurrahman bin Auf datang ke Madinah sepulang berdagang dari Syam dengan membawa 700 ekor unta beserta barang-barang hasil dagangannya. Kabar tersebut sampai kepada Baginda Nabi saw. Beliau lalu bersabda, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dalam keadaan merangkak.” Sabda Rasul ini sampai ke telinga Abddurahman bin Auf. Ia lalu berkata, “Andai saja aku bisa masuk surga dengan cara berjalan.” Seketika, tanpa pikir panjang, ia segera menyedekahkan seluruh unta dan barang-barang hasil dagangannya itu yang baru saja tiba di Madinah (HR Ahmad).

Demikianlah fenomena sedekah Baginda Nabi saw. dan para Sahabat yang mulia di atas. Mereka bersedekah seperti orang yang tak pernah takut miskin. Sebaliknya, mereka jor-joran bersedekah justru karena takut banyaknya harta malah menjadi beban di akhirat. Mereka tak sempat lagi memikirkan tentang balasan yang bakal Allah berikan, apalagi sekadar balasan duniawi berdasarkan ‘matematika sedekah’.

Sedekah Tak Selamanya Sunnah


Sedekah Tak Selamanya Sunnah

Diriwayatkan dalam sebuah hadist:

“Rasulullah Saw adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah Saw melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Dan, memang sudah seharusnya kita bersedah karena begitu banyaknya keutamaan sedekah. Diantaranya adalah : 1. Sedekah dapat menghapus dosa. (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614) 2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.(HR. Bukhari no. 1421) 3. Sedekah memberi keberkahan pada harta. (HR. Muslim, no. 2588) 4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.(Qs. Al Hadid: 18) 5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah. (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027) 6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang. (HR. Muslim no.223)7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur. (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873) 8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”) 9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.  (HR. Bukhari no. 1443)

Tetapi, tak selalu bersedekah itu dianjurkan. Tak banyak di antara kita yang tahu bahwa  sedekah tak selamanya berhukum sunnah. Sedekah bisa menjadi haram dalam kondisi tertentu. Di dalam kitab Nidzom Iqtishody karangan Syekh Taqiyuddin an Nabhani disebutkan bahwa sedekah menjadi haram ketika : a.  bersedekah kepada musuh di medan perang yang bisa menguatkan musuh dan mengalahkan kaum muslim ; b. bersedekah yang menyebabkan diri dan keluarga kekurangan (dalam memenuhi kebutuhan pokok/primernya ).

Status pemberian orang yang bersedekah hingga memudhorotkan diri dan keluarganya,  dinyatakan rusak (fasad) berdasarkan sabda Nabi Saw

“Sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan karena kecukupan dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu” (HR Bukhari, dari Abu Hurairah)

Yang diperkuat dengan sabda beliau Saw di hadist  yang lain. Diriwayatkan bahwa Nabi Saw didatangi seseorang yang ingin menyedekahkan hartanya. Lalu ia berkata “Ya Rasulullah, ambillah harta ini dariku sebagai sedekah. Namun demi Allah, aku tidak memiliki lagi harta selain ini.”. mendengar ini Rasul Saw menolaknya. Lalu beliau didatangi lagi oleh yang lain dengan maksud yang sama. Beliau mengatakan hal yang sama. Kemudian beliau bersabda “Ada salah seorang di antara kalian yang sangat bergantung pada hartanya. Dia tidak memiliki harta lain. Dia kemudian menyedekahkannya. Namun setelah itu ia mengemis-ngemis kepada orang lain. Ingatlah, sesungguhnya sedekah itu hanyalah berasal dari orang yang mampu. Ambillah harta yang engkau butuhkan ini. Kami tidak membutuhkannya”. Akhirnya orang tersebut  mengambil kembali hartanya (HR ad-Darimi)




Hadist di atas jelas sekali menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw menolak sedekah dari orang yang sebenarnya belum terpenuhi kebutuhan pokoknya sehingga seharusnya ia (orang tersebut) menerima sedekah bukan memberi sedekah

Islam mengatur, bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (primer) juga keluarga dan kerabat yang menjadi tanggungannya, baru kemudian mendorongnya untuk menyedekahkan hartanya kepada orang lain. Rasulullah Saw bersabda

“Mulailah dari dirimu. Karena itu nafkahilah dirimu. Jika ada kelebihan maka berikanlah kepada keluargamu. Jika ada  kelebihan, maka berikanlah kepada kerabat dekatmu. Jika masih ada kelebihan terhadap kerabatmu maka demikianlah seterusnya. Begitulah (beliau mengatakan) : mulailah dari yang di depanmu, lalu di sebelah kananmu dan kemudian di sebelah kirimu” (HR Muslim).

Hanya perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan pokok menurut syariat adalah berupa tiga hal yaitu sandang/pakaian (HR Ibn Majah), pangan /makanan(QS 2: 233)  dan papan/tempat tinggal (QS 65: 6).  Adapun selain ke tiga hal tersebut maka termasuk kebutuhan sekunder dan tersier yang tidak harus dipenuhi.  Dan syariat juga menentukan bahwa kebutuhan pokok adalah kebutuhan dengan standar layak. Yaitu kebutuhan untuk makan dengan makanan  layak  sehingga  bisa meneruskan hidupnya dan juga dalam keadaan sehat, pakaian layak(sekalipun sederhana)  yang bisa menutupi  auratnya atau melindungi dirinya dari udara panas dan dingin, serta tempat tinggal layak (sekalipun sederhana) untuk berteduh dari panas dan hujan atau cuaca yang tidak mendukung.

Ini artinya, orang miskin yang tidak mampu  memenuhi kebutuhan pokoknya, maka ia tidak boleh menyedekahkan sesuatu yang sangat penting bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sebab, sedekah hanya diperintahkan bagi orang yang berkecukupan yaitu orang yang tidak meminta-minta lagi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Adapun orang yang dia sudah mampu memenuhi kebutuhan primernya, maka ia disunnahkan mengutamakan orang-orang fakir miskin dari pada dirinya meskipun ia sendiri butuh harta tersebut untuk memenuhi kebutuhan sekundernya

Tetapi harus diperhatikan juga bahwa tak seharusnya  ketentuan sedekah (yang hanya boleh bagi  orang yang mampu sebagaimana dijelaskan sebelumnya) mengakibatkan sedikitnya kaum muslim yang mau bersedekah dengan alasan tak mampu. Padahal,  jelas-jelas ia mampu membeli baju bagus, rumah bagus, punya televisi bagus, handphone, laptop, komputer  dan lain-lain  yang tidak termasuk kebutuhan pokok/dasar. Ia juga memiliki persediaan harta  yang cukup untuk membeli makanan untuk  hari  besok, lusa atau bahkan cukup untuk satu bulan, satu tahun dan seterusnya. Maka orang seperti ini  tak hanya sudah memenuhi kebutuhan pokoknya, melainkan sudah pula memenuhi kebutuhan sekunder bahkan tersiernya. Pada orang-orang semacam mereka inilah yang sangat  dituntut untuk bersedekah. Mereka wajib menolong kaum muslim yang miskin dan kekurangan sebagaimana sabda Nabi Saw

“Siapa saja yang menjadi penduduk suatu daerah, lalu di antara mereka terdapat seseorang yang kelaparan, maka perlindungan Allah SWT terlepas dari mereka” (HR Ahmad).


Nabi juga menuturkan suatu hadist berupa hadist qudsi yang diriwayatkan dari Tuhannya

“Tidaklah beriman kepadaKu, siapa saja yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan dan ia mengetahuinya” (HR al Bazzar dari Anas)

Allah SWT juga berfirman

“Di dalam harta mereka terdapat hak bagi orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak meminta-minta” (TQS adz-Dzariyat 19)

Walhasil, siapapun kita, ketika kita menyadari bahwa kita termasuk orang-orang yang mampu dalam arti tercukupi kebutuhan pokok/dasar kita, maka kita diseru  untuk memperbanyak sedekah (sunah).  Adapun sedekah wajib yaitu zakat, hendaknya ditunaikan bagi setiap muslim yang memiliki harta yang sudah mencapai kadar sebagaimana ketentuan zakat yang dibahas khusus di bab zakat di dalam kitab-kitab fikih Islam.

Mari, kita jadikan sisa hari di bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak sedekah  yang akan membersihkan harta-harta kita, meraih ridho Allah, menghapus dosa, dan memberi keberkahan bagi hidup kita di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India